Ngentot Linda Sepupuku Yang Cantik | Tempat Download Video Bokep Foto Bugil Nonton Bokep Streaming Foto Hot Cerita dewasa Terlengkap

Diposkan oleh Om Kumis on Senin, 17 Desember 2012





Kami tinggal didaerah pedesaan 18 km dari kota. Tidak ada trayek bus yang bisa menjangkau daerah kami. Sebenarnya tinggal di desa tidak terlalu jelek, karena daerah kami juga memiliki fasilitas penunjang perekonomian yang cukup lengkap. Seh...

ingga kami bisa tinggal cukup nyaman. Permasalahan yang mungkin masih ada hanyalah kehidupan sosial. Kami jarang saling kunjung-mengunjungi sesama teman-teman sekolah karena kesulitan transportasi, dan rumah tetangga kami juga saling berjauhan letaknya sehingga hubungan anak-anak pun tidak terlalu rapat. Aku dan sepupu ku Linda yang usianya hanya selisih 2 tahun, sudah terbiasa hidup menyendiri. Karena kebetulan usia kami juga sebaya, maka teman-temankupun juga sama dengan teman-temannya, sehingga hubungan kami pun menjadi semakin dekat, bukan hanya sebagai saudara sepupu. Linda yang saat ini berusia 16 tahun, tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang sangat cantik. Lekukan tubuhnya nyaris sempurna, pinggul dan dadanya meskipun tidak terlalu besar, tapi tampak padat dan indah sekali. Banyak temanku laki-laki yang memujinya sebagai gadis yang cantik dan sexy sekali.

Meskipun hubungan kami berdua sangat rapat, tapi kami berdua tidak pernah menyinggung masalah sexual. Aku tidak pernah melihat tubuhnya telanjang sejak 4-5 tahun terakhir. Kami juga tidak pernah main 'dokter-dokteran' atau yang semacam itu. Bahkan kami juga tidak pernah membicarakan masalah sex, sehingga aku nggak pernah tahu seberapa pengetahuannya ataupun apa yang dipikirkannya. Aku juga tidak pernah melihat Linda berhubungan terlalu dekat dengan teman laki-lakinya. Sehingga aku yakin bahwa sampai saat ini dia masih perawan.

Demikian pula aku, aku tidak pernah menyentuh bagian sexual tubuh seorang gadis. Aku belum pernah melihat bentuk buah dada atau vagina seorang gadis, kecuali gambar-gambar di majalah. Aku terkadang juga memimpikan melihat dan meraba tubuh telanjang seorang gadis, khususnya saat aku sedang melakukan onani. Dan hanya sebatas itu pula pengalamanku tentang masalah sexual.

Situasi ini berlangsung sampai suatu hari kedua orang tua ku pergi kekota untuk ber-week end dan sekalian melayat teman dekat ayahku yang meninggal, sehingga harus meninggalkan rumah 3 hari. Karena kami memiliki banyak binatang peliharaan maka tidak mungkin kami pergi semua. Untuk itu aku ditugaskan untuk tetap tinggal dirumah merawat binatang peliharaanku. Ketika Linda tahu aku tidak ikut pergi, maka dia pun memilih tetap tinggal di rumah pula. Dan akhirnya ayah-ibuku setuju dengan syarat kita berdua tidak boleh pergi kencan dengan teman-teman kami selama mereka pergi. Tapi mereka setuju kalau aku nonton film di drive-in, asal mengajak Linda sekalian. Akhirnya ayah dan ibu berangkat hari jum'at pagi, bersama kami berangkat kesekolah.

Setelah pulang sekolah aku dan Linda tiba dirumah dengan menumpang bus sekolah. Setelah itu aku segera ke gudang menyiapkan makanan buat binatang-binatang peliharaan kami, membersihkan kandang ayam dan lain-lain.

Setelah semua tugas selesai akupun masuk kerumah. Ternyata Linda sudah menyiapkan makanan diatas meja. Linda memang pandai memasak, aku sangat suka masakan buatannya.

"Linda, sepertinya kamu sedang berusaha menjadi istri yang baik buatku," pujiku.

Linda pun tersenyum manis, "Banyak hal yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang istri yang baik. Aku pun tidak tahu banyak tentang itu, tapi aku akan berusaha menemukan itu"

"Kamu sudah memiliki semua persyaratan yang diperlukan," sahutku sambil tertawa.

"Well, mungkin ya, mungkin juga tidak," ujarnya dengan senyuman aneh penuh teka-teki, "Yang jelas, kenapa kita tidak siap-siap mandi untuk pergi nonton film. Kamu akan mengajakku nonton film malam ini bukan?"

"OK, kamu menang" kataku, tapi aku ingin menggoda lagi sepupu ku ini, "Akhirnya kamu berhasil juga pergi kencan, tapi sayangnya dengan sepupumu sendiri"

Dengan senyuman aneh dibalik mimik wajahnya, Linda menjawab, "Ok, mari kita bersenang-senang kak, aku harap tidak semuanya jelek. Sebenarnya banyak teman-temanku yang bersedia menggantikan tempatku malam ini"

"Ya, aku percaya. Siapa yang kamu maksudkan? Si kurus Sally?"

Linda tersenyum, "Dia memang bisa juga, tapi yang aku maksudkan Lauren"

"Lauren Wilton? Maksudmu Lauren Wilton ingin kencan denganku? Bagaimana kamu tahu? Dia begitu pendiam, aku tidak mengira kalau dia berani mengatakan hal itu"

Linda tersenyum dan berkata, "Dia cuma pendiam didekat anak laki-laki. Tapi didekat gadis-gadis lainnya tidak demikian. Dia banyak cerita kepadaku tentang dirinya, diantaranya bersifat sangat pribadi. Salah satu diantaranya sesuatu yang 'hot' tentang dirimu"

Aku benar-benar terkejut dengan cerita Linda. Lauren Wilton adalah gadis sebaya Linda, setahuku dia adalah seorang gadis yang pendiam dan tertutup. Aku pikir dia cantik, bukan hanya cantik tapi juga sexy, dengan type body cheerleadernya. Aku mulai berpikir lebih lanjut tentang Lauren, suatu saat jika ketemu aku mungkin mengajaknya kencan. Aku tidak yakin dengan apa yang dimaksudkan Linda dengan 'hot', tapi itu sepertinya merupakan harapan yang lebih baik dari sekedar berpegangan tangan. Karena kakak Lauren adalah temanku, aku jadi agak enggan untuk mencari tahu lebih lanjut tentang 'hot'tersebut.

Aku juga terkejut Linda mengunakan kata-kata yang menggambarkan tentang perasaan Lauren. Aku menganggap Linda adalah seorang gadis yang sangat polos dan tidak paham tentang permasalahan sex, tapi sepertinya dia sedikit lebih tahu tentang masalah sex dari aku sendiri. Hal ini bisa aku lihat dari caranya menerangkan tentang hubungannya dengan Lauren dan kawan-kawannya tentang apa yang dilakukan seorang pemuda dan mungkin Linda telah mengetahui jauh lebih dalam dan luas dari pada dirinya. Aku jadi khawatir aku telah salah menduga tentang dirinya. Mungkin dia sudah tidak perawan, mungkin dia telah berbohong. Aku penarasan untuk mencari tahu pemuda mana yang telah merampok 'taman kecilnya'. Dari rahasiaku yang paling tersembunyi, tentang fantasi masturbasiku, aku pernah membayangkan melakukan itu pada Linda.

"Bagaimana jika dia telah melakukan hal itu tanpa sepengetahuanku? Bagaimanapun juga aku harus mencari tahu tentang Linda sebelum week-end ini berakhir dan ayah-ibuku kembali. Aku harus tahu juga tentang Lauren."

Akhirnya aku selesai mandi dan ganti baju, ketika hari mulai petang. Linda sudah siap menungguku. Dia mengenakan kaus pendek dan celana jean yang semakin menonjolkan bentuk bukit dada dan pinggulnya yang padat berisi. Jika bukan sepupu ku, mungkin aku sudah tergiur dan bersuit memujinya.

"Gadis ini benar-benar telah masak," pikirku. "Pemuda-pemuda akan segera ingin memetik perawan ini, dan seperti juga diriku," aku tidak dapat mencegahnya tapi aku sedikit cemburu kepada pemuda yang akan beruntung mendapatkannya.

Ketika berangkat menuju pickup, Linda melingkarkan tangannya kepinggangku dan dengan tersenyum lebar dia berkata,

"Hai kakak kencanku. Aku sangat gembira kamu mengajakku nonton film sendiri. Dengan begini aku dapat membayangkan seperti pergi kencan dengan pemuda. Kencan bersama dengan lainnya sudah baik, tapi kencan cuman berdua tentunya lebih menyenangkan, kamu tahu maksudku kak?"

Aku tertawa dan menyahut, "Ya, aku rasa sulit untuk melakukan ciuman di depan orang lain"

Linda mencubit tanganku sambil berbisik, "Ya, memang sulit untuk melakukan itu," dia tersenyum dengan tanda tanya dan mencubit lenganku sekali lagi sebelum masuk pickup.

Ketika sampai di drive-in, ternyata tutup. Sebuah tanda terpampang di depanya yang menyatakan bahwa ada perbaikan listrik dan akan dibuka dua hari lagi.

"Well, apa yang harus kita lakukan sekarang?" kataku kecewa.

"Bagaimana dengan drive-in di pinggir kota? Sekitar 30 km dari sini dan kita bisa sampai disana tidak terlalu terlambat"

"Oh, aku nggak tahu Len, yang kutahu disana memutar film untuk orang dewasa"

"Kenapa kamu pikir aku tidak ingin pergi?" kata Linda, "Aku juga ingin melihat film dewasa, dan ini kesempatan buat kita. Kita kan bisa berbohong tentang umur kita. Ayolah Rickie, jangan takut. Ajak aku nonton film sex".

Akirnya akupun sampai disana dalam waktu 25 menit. Disana sudah cukup gelap, dan kerena cukup gelap maka aku dan Linda bisa membeli ticket tanpa banyak pertanyaan. Kamipun membawa mobil ke dalam dan mengambil deretan paling belakang.

Ketika aku sedang menyetel speaker di jendela, Linda berseru, "Wah, lihat itu.."

Yang dimaksud Linda 'itu' adalah seorang gadis yang telanjang bulat dengan buah dada dan kemaluannya yang terpampang jelas. Dia dalam pelukan laki-laki yang hanya memakai sepotong celana pendek dan mereka mulai berciuman. Kamera menyoroti mulut mereka sehingga tampak jelas lidah mereka yang saling bersentuhan dan permainan yang merangsang lainnya. Akhirnya speaker bisa berbunyi sehingga kami bisa mendengar rintihan lembut si gadis ketika laki-laki itu menurunkan tangannya mengusap pinggul padat gadis itu. Setelah berciuman dan saling meraba, laki-laki itu mengangkat gadis itu masuk kamar.

Adegan berikutnya memperlihatkan laki-laki dan gadis itu di atas ranjang. Lelaki berada diatas tubuh gadis itu, pantatnya naik turun seperti sedang bersanggama. Suara desahan keduanya dari speaker memenuhi seluruh ruangan cabin pickup. Meskipun tidak bisa melihat bagian paling utamanya yang saling berhubungan, tapi tampak seperti melakukan adegan sex sungguhan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Beberapa menit kemudian keduanya berteriak cukup keras sebelum akhirnya terdiam. Sepanjang sepengetahuanku, mereka hanya melakukan acting, aku nggak yakin mereka benar-benar orgasme diatas ranjang itu.

Setelah itu adegan baru pasangan yang masih memakai pakaian lengkap. Tapi tidak lama kemudian, si laki-laki melepaskan baju dan bra si gadis dan meraba dan memilin puting si gadis. Dia melepaskan rok dan dijatuhkan kelantai. Si gadis melepas sabuk dan menurunkan celana laki-laki itu. Kemudian mereka saling reraba. Si lelaki menurunkan celana dalam si gadis sampai melewati kakinya. Sekarang si gadis dalam keadaan telanjang bulat sehingga buah dada dan kemaluannya terpampang semuanya. Si gadis pun segera menarik lelaki itu ke atas tubuhnya. Dan adegan senggama seperti tadi pun segera terjadi lagi.

Hanya suara merangsang yang mereka buat, tidak banyak melakukan gerakan panas, tapi membuatku benar-benar terangsang dan kemaluanku tegang dan membesar, memenuhi semua ruangan bagian depan jeanku. Napasku jadi berat dan tanganku kuletakkan diatas kemaluanku untuk mengurangi ketegangan yang terjadi. Ujung mataku menangkap bahwa film tersebut memberikan pengaruh yang sama terhadap Linda. Pinggul sepupu ku tampak bergerak-gerak dan nafasnya berat seperti aku. Linda menggeser duduknya mendekatiku dan memeluk tanganku.

"Film ini seperti sesungguhnya, ya khan?" bisiknya.

"Ya, benar"

"Menurutmu apa mereka benar-benar melakukan itu? Cara mereka saling menekan vagina tidak kelihatan bagian itunya, tapi seperti dia benar-benar melakukan itu ke si gadis, benar kan?"

"Mereka mungkin hanya ber-acting, tapi benar-benar seperti sungguhan"

Linda berbisik, "Wah, aku belum pernah melihat yang seperti ini. Sayangnya hanya sigadis yang kelihatan semuanya, tapi si lelaki tidak pernah kelihatan. Kamu dapat melihat bagian yang kamu inginkan tapi aku tidak."

Kami berdua kemudian melihat ke film tanpa mengatakan apa-apa, hanya suara desahan yang datang dari speaker dan nafas kami yang semakin panas. Linda tetap duduk merapat tubuhku, tangannya memeluk bagian atas tanganku. Batang kemaluankupun semakin mengeras dan menekan jeanku sampai terasa sakit, aku hampir tidak tahan lagi. Linda pasti juga merasakan hal yang sama, karena dia meletakkan tangan satunya kebawah, ke dalam antara pahanya, pinggilnya juga bergerak-gerak.

Linda memandang ke arahku dan berbisik, "Apakah melihat film seperti ini mempengaruhi kamu? Apa kamu terangsang?"

"Oh, ya pasti.. Bagaimana kamu?"

Linda mengiyakan, "Ya, aku juga begitu. Melihat mereka aku benar-benar terangsang,"

Linda meletakkan tangannya diatas pahaku dan mencondongkan wajahnya sehingga bibirnya berbisik di depan telingaku.

"Apa yang terjadi kalau kamu terangsang? apa kamu ereksi seperti yang tertulis di buku sex-ed?"

Sentuhan Linda bahaikan listrik. Menjadikan kemaluanku semakin keras, sehingga semakin menekan keluar celanaku, sepertinya tidak pernah aku merasakan sebelumnya. Sambil mengatur nafasku aku menjawab, "Ya, aku hard-on"

"Kamu sedang tegang sekarang," bisiknya. Tanpa menunggu jawaban, tangannya digerakkan ke atas menyusuri pahaku sampai tepat diatas batang kemaluanku. Dia mengusap-usap batang penisku yang tegang itu, "Wah, Rickie! Seluruh bagian depan celanamu menonjol keluar"

Sambil mengusap-usap, dia berkata,

"Apa yang kamu kerjakan kalau seperti ini?"

"Mmm, aku.. Aku melakukan sesuatu. Kalau kamu sendiri, apa yang kamu lakukan?"

Linda tertawa pelan dan menjawab, "Aku menggunakan tanganku untuk melepaskannya. Bagaimana kamu melakukan itu?"

Akupun tertawa sambil menjawab, "Aku beat off juga"

Sambil mempelajari wajahku Linda bertanya lagi, "Apa kamu menginginkan beat off sekarang"

"Ohh ya, aku hampir nggak tahan lagi. Bagaimana kamu?"

"Dalam waktu yang singkat" bisik Linda. "Apakah sebaiknya kita..?"

"Mungkin sebaliknya kita melakukan disini, di depan kita masing-masing?" kataku meneruskan kata-katanya.

"Yah, aku juga ingin mengatakan begitu" kata Linda gugup.

"Kita mungkin akan lebih menikmati film jika kita melakukan itu, ayo kita lakukan"

Aku tidak mengatakan apa-apa lagi, Linda segera melepas kancing jeans dan menurunkan kebawah sampai lutut. Samar-samar aku dapat melihat celana dalamnya diturunkan sampai kebawah lututnya. Kemudian dia membuka pahanya dan segera tangannya dimasukkan diantara pahanya, sekilas aku lihat ada bayangan gelap disana. Linda segera menggerakan tangan pelahan-lahan desahan kenikmatan keluar dari bibirnya.

Melihat apa yang dilakukan Linda membuatku semakin terangsang melebihi yang pernah aku rasakan. Segera aku turunkan jean dan celana dalamku kebawah lutut seperti yang dilakukan Linda. Batang kemaluankupun mencuat berdiri tegak, membentur roda kemudi. Linda pasti melihat keadaanku, seperti apa yang kulakukan kepadanya.

Linda setengah memekik melototi batang penisku, "Wah, Rickie, penismu sangat besar dan keras. Aku nggak mengira anak laki-laki mempunyai sebesar itu. Itu pasti panjangnya 7 atau 8 inci"

Aku nggak pernah meperhatikan tentang seberapa besar penisku. Aku juga nggak pernah membandingkan ukurannya dengan pemuda lainnya. Aku nggak ngerti apa yang harus kukatakan kepada Linda kecuali, "Ya, mungkin kamu benar".

"Aku belum pernah melihat penis laki-laki sebelumnya. Aku perlu cahaya yang lebih terang untuk bisa melihatnya lebih jelas. Boleh aku pegang?".

Dipegang Linda? Wah, aku sering membayangkan seorang gadis memegang dan mengelus penisku, dan sekarang disini ada yang menawarkan untuk melakukannya. Akhirnya akupun berbisik, "Ya, bila kamu juga menginginkannya"

Linda segera meraih dan menggenggam batang penisku kemudian menggerakkan tangannya naik turun. Perasaan nikmat menggetarkan seluruh tubuhku, secara reflek mulutku mendesah dan pinggulku ikut terangkat-angkat. Linda segera menarik kembali tangannya, "Apa kamu merasa sakit?" tanyanya khawatir.

"Tidak," kataku tergagap-gagap, "Aku merasa lebih nikmat bila orang lain menyentuhnya, aku nggak bisa menahan kenikmatan ini"

Linda pun segera menggenggam kembali penisku, meremasnya dengan lembut.

"Kalau kau merasa lebih nikmat bila aku yang melakukan, beritahukan aku caranya, apa yang sebaiknya kulakukan".

"Genggamlah dengan lembut kemudian gerakkan tanganmu naik turun seperti tadi, itu saja. "

Beberapa saat kemudian Linda menghentikan gerakannya, kemudian berbisik,

"Rickie, kau mau menyentuhku seperti aku melakukannya untukmu. Dengan begitu kita bisa saling memberi dan mengeluarkannya sama-sama. Ayolah, kamu maukan melakukan seperti yang kulakukan?".

"Ya tentu saja" kataku cepat, "Aku sangat menyukainya. Aku nggak pernah menyentuh seorang gadis sebelumnya, kamu ajari juga aku, apa yang sebaiknya kulakukan"

Linda memegang tanganku dan membimbingnya ke bagian diantara pahanya. Aku merasakan adanya rambut halus disana dan bibir tebal yang basah. Jari-jariku menelusuri celah diantara bibir-bibir tersebut, aku menemukan kemaluan Linda sangat basah dan hangat pula. Kugerakkan jari-jariku naik-turun menyusuri lembah basah tersebut dan kutemukan tonjolan kecil dibagian atas. Pinggul Linda terjungkit ketika jariku menyentuh tonjolan itu, dan dia meremas lenganku sambil berbisik,

"Ya, tepat dibagian itu. Ada tonjolan? itu tempat yang paling nikmat. Sentuhlah bagian itu sesering mungkin".

Aku pun menggerakkan jari-jariku naik-turun di lembah basah tersebut, bergerak dari atas kebawah dan setiap kali kutekan-tekan tonjolan di bagian atas vagina Linda.

Linda mendesah-desah, "Uuumm.. Yaa.. Terruuss" dan pinggulnya pun ikut bergerak-gerak kedepan seirama dengan gerakan tanganku. "Ya.. Ya.. Ohh" desisnya pelan, "Terus lakukan seperti itu, aku merasa gerah, jangan dilepaskan".

Aku hampir nggak percaya Linda berkata seperti itu. Tadi dia mengatakan belum pernah melihat penis sebelumnya, meyakinkan aku bahwa dia masih perawan, dia kelihatannya sudah tahu cukup banyak dan tertarik mengenai sex seperti juga aku. Reaksinya atas sentuhanku dan kenikmatan yang dirasakannya paling tidak mirip seperti yang kualami.

Sambil menikmati aktivitas kanganku, Linda kembali memperhatikan batang kemaluanku dan kembali tangannya digerakkan seperti tadi. Aku juga tidak bisa mengendalikan gerakan pinggulku, yang bereaksi seirama dengan gerakan tangannya yang naik-turun di batang penisku.

Kami juga memperhatikan layar film, dimana gerakan pinggul pemuda yang sedang mengerjain si gadis makin lama semakin cepat, suara desahan dari speaker pun semakin keras, keadaan itu semakin mengobarkan gairah aku dan Linda. Kami berdua semakin mempercepat gerakan kami, seolah berlomba dengan gerakan yang ada dilayar film, untuk mencapai puncak orgasme kami.

Akhirnya Linda lebih dulu mencapai uncak orgasmenya. Wajahnya menengadah kebelakang sambil mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi kedepan dan pahanya menjepit tanganku erat-erat. Seluruh tubuhnya menggigil dan bergerak-gerak dengan cepat. Linda mendesah pelan,

"Ooohh, yaahh! Wah, oohh," desahannya semakin pelan dan pelan, akhirnya terdiam lemas, dengan nafas tersegal-segal. Matanya terbuka dan memandangku sayu sambil berbisik lembut,

"Wah, aku tidak pernah bisa mengalami 'keluar' seperti ini sebelumnya"

Dia menggenggam batang penisku sambil berbisik, "Kamu sudah selesai juga?".

"Belum," kataku, "belum, aku hampir sampai kesana. Teruskan seperti tadi"

Linda pun kembali mengocok batang kemaluanku, tangannya digerakkan naik-turun. Waktu melihat Linda mengalami orgasme aku hampir ikut keluar juga, batang penisku sekarang berwarna semakin kemerah-merahan.

Sambil meneruskan gerakan tangannya Linda berkata, "Bagian ujungnya sudah basah, kamu yakin belum keluar?"

"Belum" desisku, "Teruskan beberapa saat lagi, aku hampir sampai. Kamu akan lihat kalau aku sampai".

Beberapa adegan dilayar film telah berlalu, si laki-laki telah meninggalkan si gadis yang masih terlentang di ranjang dengan pahanya yang terbuka lebar-lebar. Vagina si gadis tampak terbuka lebar sehingga terlihat bagian berwarna pink yang basah diantara bibir vaginanya. Aku membayangkan aku baru saja menjelajahi liang kenikmatan tersebut dan memenuhinya dengan spermaku.

Gabungan imajinasiku dengan gerakan tangan Linda pada batang kemaluanku yang menimbulkan kenikmatan birahi yang teramat sulit kugambarkan mengantarkan aku kepuncak kenikmatan. Kuangkat pinggulku tinggi-tinggi ketika dari ujung batang penisku menyemburkan sperma kuat-kuat keudara dan jatuh ke dashboard, kemudian disusul dengan semburan berikutnya dan berikutnya. Sampai tidak bisa lagi menyembur keudara, kecuali meleleh membasahi tangan Linda. Dan Linda pun masih meneruskan gerakannya meskipun tangannya telah basah kuyup oleh lendir spermaku. Mulutku mengerang-erang setiap kali spermaku tersembur keluar.. Dan kemudian tertunduk lemas. Tapi batang kemaluanku masih tetap mengeras meskipun sudah tidak bisa mengeluarkan sperma lagi.

Tangan Linda kuraih untuk menghentikan gerakannya, tapi dia masih terus menggenggam erat-erat batang penisku sambil menggerakannya pelan-pelan dan lembut sekali. Akupun berbisik lagi, "Kalau kau tidak menghentikan gerakanmu, aku bisa keluar lagi".

Mata Linda melotot seolah hampir keluar melihat batang penisku menyemburkan sperma, "Wah, kamu bisa lagi? Aku benar-benar tidak membayangkan seperti itu kejadiannya. Aku tahu dari buku sex-ed bahwa sperma akan keluar dari penis laki-laki pada saat climax, tapi kamu telah menyemburkannya begitu banyak, begitu kuat semburannya, aku tidak bisa membayangkannya".

"Ya, itu lebih banyak dari yang pernah aku alami sebelumnya. Karena sambil menyentuhmu aku jadi begitu terangsang sehingga keluar beberapa kali".

"Kamu senang menyentuhku?" bisik Linda.

"Ohh, pasti. Apa kamu juga suka aku menyentuhku?"

Tangan Linda mengusap-usap batang penisku sambil berbisik, "Ya, ya aku sangat menyukainya. Aku sudah lama menunggu seorang pemuda menyentuhku, dan akhirnya hal itu terjadi".

Gerakan tangan Linda di batang penisku menimbulkan perasaan semakin nikmat lagi, aku tahu bahwa dashboard mobil ini akan tersiram lagi oleh semburan spermaku. Tangankupun kuturunkan meraba vaginanya. "Kamu mau lagi Len?" bisikku lembut.

Linda meraih leherku dan mendekatkan kewajahnya. Dia menempelkan bibirnya kebibirku dan mengesek-gesekan pelahan.

"Ya," bisiknya, "Aku menginginkannya lagi, dan kemudian lagi, terus dan terus sampai kita tidak mampu melakukannya lagi. Tapi aku juga ingin bisa melihat dengan jelas apa yang kukerjakan. Aku ingin bisa melihat penismu, bisa melihatnya dalam keadaan terang, tidak gelap seperti di mobil ini."

Dia kembali menyapukan bibirnya lagi, ciuman kecil yang membuat penisku semakin mengeras, dan ujarnya, "Tidak ada orang dirumah, Rickie. Semuanya terserah kita. Kita bisa melepas semua pakaian kita dan kita bisa saling melihat semuanya, saling meraba. Kita memiliki seluruh weekend sendirian, dan kita dapat melakukan apapun yang kita inginkan. Aku benar-benar akan melakukan seperti aku adalah istrimu".

Aku ingat komentar Linda sebelumnya tentang menjadi istriku dan senyuman aneh yang tersirat diwajahnya ketika Linda mengatakan itu. Ini adalah penjelasan singkat dari pernyataannya, dan aku sangat berharap mendapatkan janjinya itu. Tanganku meraih kebawah jok mengambil kotak tissue untuk membersihkan tubuh dan bagian mobil disekitar kami. Semua bekas hubungan intim kami telah bersih sama sekali, kecuali aroma khas dari yang mengundang birahi memenuhi ruang cabin.

Linda duduk merapat ketubuhku ketika kami pulang kerumah, tangannya diletakkan diantara pahaku, sambil mengusap-usap lembut tonjolan kemaluanku. Aku juga ingin menyentuhnya tapi kedua tanganku harus sibuk memegang steer. Aku pun berusaha secepat mungkin kembali kerumah. Sebelum melewati pompa bensin tiba-tiba Linda berseru, "Rickie, stop disini. Aku kebelet kencing sekali".

Akupun menghentikan kendaraan dan Linda menuju ke toilet wanita. Aku senang dia minta berhenti disini karena aku juga memerlukan sesuatu. Ketika masuk toilet, aku lihat mesin penjual condom didinding. Kupikir aku dan Linda mungkin akan membutuhkannya, akupun segera mengambil empat buah. Aku perlu mempersiapkan segala kemungkinan yang mungkin terjadi.

Linda pun segera keluar dari kamar wanita begitu aku kembali ke mobil. Sambil tersenyum lebar aku menyapa, "Sudah merasa baikan?".

Kembali Linda merapat ketubuhku sambil kepalanya disandarkan kepundakku, dan tangannyapun diletakkan diantara pahaku. "Yah, semuanya terkendali" katanya. "Sekarang bawa aku pulang secepatnya, Aku akan melanjutkan kencan pertamaku".

Aku memang ingin segera sampai kerumah. Kalau mobil ini bisa terbang, sudah kuterbangkan sejak tadi. Tapi dengan tangan Linda diatas kemaluanku sambil membelai-belai dari luar jeanku, menjadikan aku sulit berkonsentrasi untuk mengemudi.

Usapan-usapannya membangkitkan gairahku dan sepertinya berlomba siapa yang lebih cepat sampai, orgasmeku atau mobilku sampai rumah. Aku bayangkan apa yang terjadi sesampainya kita dirumah. Linda telah demikian fulgar menyatakan keinginannya, untuk telanjang bulat dibawah sinar lampu yang terang sehingga kami bisa saling melihat dan menyentuh tubuh kami. Dia sangat senang ketika jari-jari tanganku membuatnya orgasme dan dia ingin segera pulang agar kami bisa segera melanjutkan kencan kami sampai sepuas-puasnya. Dengan tidak adanya orang tua kami dirumah, kami bebas untuk melakukan apa saja yang kami inginkan. Akupun ingin mencapai orgasme lagi, lagi dan lagi sepanjang malam.

Dengan membayangkan sepupu ku Linda telanjang bulat membuatku sangat bergairah. Aku ingat bayangan rambut kemaluannya dikegelapan drive-in, dan ingin bisa melihat jelas rambut keriting dan bibir vagina yang telah aku jelajahi dengan jari-jariku. Aku belum pernah melihat gadis telanjang sebelumnya dan tanpa sadar nafaskupun jadi semakin memburu.

Aku benar-benar telah meraba vagina Linda tapi belum pernah menyentuh buah dadanya. Aku tahu dia mempunyai buah dada yang sangat indah dan aku jadi tidak sabar untuk bisa melihatnya tanpa terhalang apa-apa. Aku bayangkan seperti apa bentuk puting buah dadanya dan bagaimana rasanya kalau kukulum dengan bibirku, kuhisap dan kupilin-pilin. Imajinasiku membuat penisku semakin menonjol keluar celana jeanku. Aku segera memegang tangan Linda untuk menghentikan gerakannya.

"Ohh, Len" desahku, "Aku hampir keluar. Bila kau teruskan sedikit lagi, celanaku akan segera dipenuhi oleh cairan spermaku". Linda segera menghentikan gerakannya dan menarik tangannya dari celah pahaku.

"Maaf Rickie. Aku benar-benar nggak paham reaksi laki-laki dan aku hanya bermaksud untuk meyakinkan bahwa kamu masih panas dan tegang sesampainya di rumah. Aku sangat menyukai menyentuhmu dalam keadaan tegang seperti ini, tapi tentunya aku tidak ingin kamu keluar sekarang. Aku ingin menunggu sampai sampai kita tiba dirumah, membelainya dengan tanganku dan melihatnya dengan jelas ketika penismu memancarkan sperma. Aku sangat menyukai melihat penismu menyemprotkan sperma dan membasahi semuanya disekitar tanganku, dan aku ingin melihat kamu keluar lagi, lagi dan lagi.. "

"Jangan khawatir dengan keteganganku. Hanya dengan membayangkan tubuh imutmu ini telanjang sudah bisa membuat penisku tegang sekali. Ini merupakan pengalamanku yang pertama melihat seorang gadis telanjang, dan aku tak sabar menunggu untuk menelanjangimu dan menyentuh seluruh tubuhmu".

Tangan Linda memegang erat pahaku sambil berbisik,

"Ya, aku paham yang kamu maksud. Hanya membayangkan yang kau katakan membuat celanaku jadi basah. Aku sudah basah dari tadi, tapi sekarang benar-benar tambah basah".

Linda menempelkan bibirnya kepipiku dan menciumnya dengan mesra.

"Rickie, jangan tunda-tunda lagi, bawa kita segera pulang kerumah secepat yang kamu bisa lakukan. Aku benar-benar ingin kau segera menyentuhku, dan aku baru saja keluar lagi gara-gara membayangkan itu"

"Jangan sampai keluar lagi Len," kataku khawatir, "Tunggulah sampai kita tiba dirumah, aku ingin membuatmu keluar".

Linda segera tersenyum dan membelai pahaku.

"Jangan khawatir. Aku bisa keluar dan keluar lagi setiap saat. Suatu ketika kalau aku melakukan sendiri, aku bisa melakukan berkali-kali sepanjang yang aku inginkan"

Akhirnya kami sampai dirumah. Kami segera keluar mobil sambil berpelukan, tangan Linda memeluk tubuhku erat-erat sehingga pinggul kami saling mergesekan. Sesampainya di depan pintu Linda berputar menghadapku dan berkata,

"Terimakasih atas malam indah ini, kau benar-benar memberikan kencan yang sangat menakjubkan. Berikan aku ciuman selamat malam"

Pertama-tama aku tidak tahu apa yang dia inginkan, tapi kemudia memahami ketika dia membawaku melanjutkan permainan kami tentang kencannya, kencannya yang pertama dengan seorang pemuda. Meskipun dia adalah sepupu ku, bibirnya yang menantang mendorongku segera memutuskan untuk berperan aktif dalam melanjutkan fantasi permainannya. Aku tidak paham kelanjutan permainannya tapi aku tahu dia begitu bergairah seperti juga aku dan apapun yang akan terjadi kami akan sama-sama menginginkannya.

Kubuka tanganku dan kuraih tubuhnya sehingga seluruh tubuh kami bersentuhan penuh. Kuturunkan bibirku ke arahnya, kurasakan buah dadanya yang padat menekan dadaku dan bagian kemaluannya bergesekan dengan batang penisku. Ketika bibir kami bersentuhan, tangannya memelukku dan menariknya lebih merapat, kemaluannya digesek-gesekkan dengan gerakan memutar. Linda mendesah lembut. Ketika bibir kami saling bertautan, aku benar-benar lupa bahwa yang sedang aku peluk adalah sepupu ku. Dia kuanggap sebagai seorang gadis sexy yang sangat menggairahkan.

Rickie berusaha menyupkan bibirnya ke dalam mulut Linda, dan Linda pun membuka mulutnya sehingga bisa menjelajahi bagian dalam mulut Linda. Dan Rickie mengerang ketika tiba-tiba lidahnya dihisap Linda. Rickie pun kemudian ganti menghisap lidah Linda, kemudia mereka saling menghisap dan mendesah. Kedia tangan remaja itupun tidak tinggal diam, tangan Linda meraba dan meremasi pantat Rickie sambil menekan-nekan sehingga batang penis Rickie bergesekan dan menekan lebih kuat ke panggal paha Linda.

Tiba-tiba Linda mengerang dan tubuhnya mengejang. Tangannya memeluk dan menarik tubuh Rickie kuat-kuat..

"Ooohh.. Wah.. Aaahh"

Rickie terkejut, hampir tidak percaya bahwa Linda bisa orgasme hanya karena ciuman dan pelukan saja. Gadis ini sepertinya demikian menghayati perannya dalam permainan ini. Beberapa saat kemudian tubuh Linda pun kembali relax. Matanya terbuka dan memandang wajah pemuda itu dengan terbinar-binar, sorot matanya menyiratkan cinta kasih dan kerinduan yang teramat mendalam.

"Orang tuaku sedang pergi weekend dan saya sendirian dirumah. Maukan kamu masuk ke dalam, dan melanjutkan lagi permainan kita?".

"Ya" jawabku cepat, "aku ingin melanjutkan lagi dan lagi.. "

"Aku juga" kata Linda sambil menggandeng tanganku, sambil tangan lainnya membuka pintu. Setelah aku masuk Linda segera menguncinya kembali. Dia segera menyalakan lampu, sehingga disekitar kami menjadi terang benderang. Linda segera memelukku kembali dan menciumi seluruh wajahku.. Dengan penuh gairah dia ciumi bibirku sehingga kembali kami berciuman dengan panas.

"Kamu menyukai tubuhku?" bisik Linda.

"Wah.. Aku sangat menyukainya" kataku cepat.

"Kamu ingin melihatnya lebih dari tadi?"

"Ya. Aku ingin melihat semuanya. Aku ingin melepaskan semua bajumu sampai engkau telanjang bulat, sehingga aku dapat melihat jelas setiap bagian dari tubuhmu"

Linda tersenyum manis dan mendekat ke arahku, "Bukalah semua pakaianku, telanjangi aku".

Aku tidak tahu lagi apakah ini merupakan bagian dari fantasi Linda atau memang gadis ini ingin menunjukan kepadaku keadaan nyata tubuhnya. Aku pikir itu merupakan kombinasi keduanya. Apapan juga aku menginginkannya. Dan pelahan-lahan kuangkat kausnya melewati wajahnya dan kujatuhkan kelantai.

Linda kembali berkata, "Buka bra-ku, kau akan bisa melihat buah dadaku"

Kubuka kaitan bra Linda, kuangkat melewati pundaknya dan kujatuhkan pula dilantai disamping kausnya. Segera kuraih tubuh Linda, kepeluk dari melakang dan buah dadanya yang kencang padat itupun sudah ada dalam genggamanku.. Puttingnya semakin tegang dan mengeras, menusuk telapak tanganku. Kubelai-belai puting itu dengan lembut penuh perasaan, kupilin-pilin dan kujepit lembut dengan jari-jari tanganku.. Linda mengerang dan mendesah kenikmatan, tubuhnya disandarkan ketubuhku.

Sambi tangan kiriku membelai-belai sepasang bukit indah di dada Linda, tanganku merayap kebawah.. Menelusuri kehalusan kulit perutnya, dan terus menyusup kecelah diantara pahanya, dan vagina perawan sepupu ku ini pun sudah berada dalam tanganku. Linda mendesah agak teras dan tubuhnya kembali mengejang,

"Ohh.. Aku keluar lagi, cepat kau selesaikan tugasmu.. Buka dulu seluruh pakaianku.. Aku ingin merasakan kulit tanganmu meraba vaginaku secara langsung"

Kutemukan dan kubuka kaitan jeannya, kuturunkan resletingnya, dan sambil berjongkok pelahan-lahan kuturunkan jeannya kebawah melewati pinggul, lututnya dan kulepas sama sekali melewati kakinya. Sepatunya pun segera kulepas juga, kemudian kubalikan tubuhnya sehingga wajahku tetap di depan secarik kain segitiga yang tinggal menutupi bagian paling pribadi sepupu ku ini.

Aroma khas dari celana dalam Linda yang basah itupun segera tercium olehku, aroma yang segar dari cairan gadis perawan. Batang kemaluankupun terasa menegang dan memberontak didalam celanaku. Linda segera mengangkat kausku melewati kepalaku.

"Sekarang turunkan dan lepas celanaku agar kemaluanku telanjang"

Tanganku agar bergetar ketika pelahan-lahan kuturunkan celana dalam Linda. Senti demi centi kuturunkan kain putih itu melewati pinggulnya, dan bulu-bulu yang halus dan rapi tampak di depan mataku, dan akhirnya bentuk vagina kecil Linda tampak jelas.. Bibir putih tebal dengan lipatan yang masih rapat.. Tonjolan kecil mencuat.. Jantungku terasa berdetak semakin cepat seiring dengan nafasku yang mulai memburu..

"Ooohh Wah, seperti inikah bentuk vagina seorang gadis? demikian menakjubkan.. "

Entah berapa lama aku terbengong-bengong melihat bentuk vagina perawan ini, sampai kemudian aku tersadar ketika Linda berkata lembut,

"Kau menyukai kemaluanku?"

"Ya.. Ya. Ooohh, aku sangat menyukainya. Sangat indah selaki Len"

"Kamu suka menciumnya?"

Wah, aku hampir nggak percaya mendengar permintaan Linda. Adik kecilku yang manis, yang selama ini kuanggap demikian suci dan lugu tentang sex, menyuruhku untuk mencium kemaluannya.. Aku yakin sebelumnya dia telah melakukan diskusi yang sangat sexy dengan gadis lain tentang masalah sex, sampai membicarakan juga tentang mencium vagina. Tapi apapun juga, aku juga mengakui bahwa aku juga berfantasi melakukan itu, sebagai bagian paling sensual dari hubungan intim laki-laki dan wanita.

Aku memandang Linda sambil berkata, "Kau menginginkan aku mencium vaginamu?"

"Ya, bila kamu juga menginginkannya," kata Linda lembut.

"Aku pernah dengar seorang gadis mengatakan betapa nikmatnya dicium vaginanya. Jari-jarimu demikian nikmat menyentuh clitorisku, dan aku yakin bibirmu akan jauh lebih nikmat lagi"

Katanya lebih lanjut sambil mengusap-usap rambutku, dan dengan suaranya yang lembut dan manis Linda berkata lagi, "Tolonglah Rickie, aku ingin merasakan sesuatu yang tidak mungkin bisa kulakukan sendiri, ayolah Rickie lakukan buatku".

"Kau ingin aku melakukan sekarang?"

"Ya sekarang.. Oohh.. Aku hampir mati menunggunya. Mempertontonkan tubuhku yang telanjang telah membuatku begitu gairah. Rasanya aku hampir keluar lagi, aku yakin ini akan merupakan orgasme yang paling nikmat yang pernah aku alami selama ini"

Akupun berdiri dambil tanganku kuturunkan kebawah dan meletakkannya di bagian cembung di pangkal paha Linda. Pelahan-lahan kususupkan jari tengahku diantara bibir vagina Linda yang tebal itu, kurasakan kebasahan disana. Aku pernah dengar dari temanku mengatakan sedapnya rasa cairan lendir pacarnya dan sekarang akupun punya kesempatan untuk menikmatinya. Aku yakin lendir Linda pasti lebih nikmat dari pada milik gadis-gadis lainnya. Akupun berbisik,

"Aku sudah lama memimpikan untuk mencium dan merasakan nikmatnya vagina seorang gadis, Linda".

"Wah," desah Linda, bayangan kenikmatan memenuhi wajah Linda, "Cepat, mari kita segera kekamarku, kita gunakan janjangku saja."

Linda pun segera lari menuju kamarnya dan akupun mengikuti dibelakangnya. Hatikupun bergetar sambil menelan ludah melihat gerakan pinggulnya yang bulat padat waktu bergerak. Linda tampak seksi sekali. Kuingin segera meraih pinggul seksi itu sambil menciumi vaginanya. Linda segera menyalakan lampu kamarnya dan rebah terlentang diatas ranjang, pahanya dibuka lebar-lebar sehingga calah-celah vaginanya terpapar dengan jelas.

"Sebaiknya posisiku seperti apa?" tanya Linda.

Aku pun tersenyum, "Well, ini seperti orang buta lawan orang buta. Aku juga belum pernah melakukannya, tapi OK, kita bisa sama-sama belajar".

Akupun berlutut dilantai, kuraih paha Linda dan kutarik sehingga kedua kakinya kini menggantung kelantai. Kuraih bantal dan kususupkan dibawah pinggul Linda. Sekarang vaginanya jadi menondol dan terpampang semakin jelas di depan wajahku. Dengan kedua ibu jariku kubilak bibir vaginanya sehingga liang vagina Linda tampak jelas sekali, seluruh permukaan lembahnya berwarna merah muda tapi dan lubangnya tampak masih sempit sekali, cuma sebesar ujung jari kelingkingku. Hidungkupun segera mencium aroma segar yang khas. Jantungkupun berdetak semakin keras melihat pemandangan indah itu.

"Wow Linda, indah sekali bentuk vaginamu ini.. Jauh lebih indah dari yang pernah kubayangkan.. "

Bibirkupun segera menciumi seluruh lembah vagina Linda, dari bawah ke atas, dan ternyata cukup sedap baunya. Lidahku kujulurkan dan kutekan ke dalam liang kecil itu, sambil hidungku aku tekan-tekankan ke clitoris Linda berupa tonjolan kecil diujung bagian atas lembah tersebut. Aku benar-benar sangat bergairah menciumi bagian paling rahasia Linda yang selama ini selalu disembunyikan rapat-rapat.

Linda seperti tersengat listrik ketika bibirku menciumi vaginanya.. Seluruh tubuhnya bergetar sambil pinggulnya terjungkit-jungkit.

Sambil menyandarkan tubuhku, lidahku kujulurkan, kemudian menyapu daerah tersebut naik-turun sepanjang jalur celah vaginanya, sehingga aku bisa mencicipi kelezatan cairan kewanitaannya yang ternyata cukup nikmat dan akupun juga menyukai aromanya pula. Demikian pula sentuhan lidahku dengan celah vaginanya menimbulkan sensasi yang sulit digambarkan. Sepertinya aku juga dapat merasakan sensasi-sensasi yang dirasakan Linda. Dan yang pasti sejak itu dan seterusnya aku sangat senang untuk melakukan perbuatan seperti ini lagi.

Kemudian kususupkan tanganku ke bawah pinggulnya dan mengangkatnya lebih tinggi, sehingga aku lebih mudah menjilat dan menjelajahi seluruh lorong-lorong celah vagina Linda. Dan Linda pun ikut membantu dengan membuka pahanya lebih lebar sehingga mempermudah usahaku.

Kali ini ganti clitorisnya kukerjain. Tonjolan daging kecil yang mencuat di bagian atas celah vagina Linda itu sepertinya semakin membengkak dan mengeras. Pinggul Linda bergetar dan merintih ketika clitorisnya kuhisap-hisap,

"Ooohh Rickie, oohh enak sekali, aduuhh, Wah, nikmat sekali. "

Aku tahu, bila ini dilanjutkan Linda akan mencapai climax lagi. Aku tidak menginginkannya seperti itu, aku ingin membangkitkan gairahnya pelahan-lahan sampai kemudian mencapai climaknya dalam waktu yang cukup lama sehingga Linda akan berkesempatan menikmati proses kenikmatan yang lebih lama lagi dan juga akan memberikan tambahan kenangan manis buatnya, ketika kelak dia mengingat kembali saat-saat kencannya yang pertama.

Kemudian kulepas clitorisnya, kuturunkan bibirku, kali ini liang vaginanya kujadikan sasaran. Kutekan-tekan lubang kecil itu dengan ujung lidahku. Kujulurkan lidahku lebih panjang dan kumasukkan ujung lidahku ke lubang kecil itu. Kuusahakan agar ujung lidahku masuk sejauh mungkin yang bisa dijangkau. Kutarik dan kumasukkan lagi berulang-ulang. Kurasakan cairan vagina Linda keluar semakin banyak dari lubang itu. Sementara pinggul Linda ikut bergerak-gerak naik-turun mengikuti gerakanku. Linda merasakan sensasi kenikmatan yang lain lagi, tapi ternyata tidak kalah nikmat dari yang tadi sewaktu clitorisnya kukerjai.

"Yes, yes, yes, oohh terus, teruuss, oohh, " erang Linda dengan suara semakin keras. Untunglah rumah kami tidak mempunyai tetangga sehingga aku tak perlu khawatir suara Linda terdengar orang lain.

Gerakan pinggul Linda semakin cepat seiring dengan rintihannya yang semakin nyaring, sehingga aku tahu bahwa Linda sudah semakin dekat mencapai puncak orgasme yang lebih besar dari sebelumnya.

Aku segera mengubah sasaranku lagi, kini clitorisnya kuhisap-hisap kembali dan ujung jariku kumasukkan liang vaginanya menggantikan posisi lidahku. Linda melengkuh dengan suara berat ketika ujung jariku tenggelam keliang vaginanya lebih dalam dari apa yang bisa dicapai lidahku tadi, apalagi setelah ujung jariku kugerakkan keluar-masuk, pinggul Linda pun segera terangkat sampai melewati wajahku dan.. erangan keras segera keluar dari mulutnya,

"Ooohh!!, oohh, aku keluarr, oohh aku keluarr!!"

Aku bisa melihat ketika cairan kewanitaannya meleleh keluar dari liang vaginanya. Linda pun merintih dan menangis dengan perasaan nikmat luar biasa. Akupun kembali menciumi seluruh permukaan vaginanya sampai pelahan-lahan gerakan Linda semakin melemah, dan Linda segera menarik wajahku ke atas agar menghentikan gerakannku.

"Ohh, Tuhan. Stop sudah, sudah, " desahnya."Aku bisa mati kalau kau teruskan lagi."

Aku tersenyum puas melihat Linda bisa mencapai orgasmenya yang dasyat itu. Nafas Linda masih terengah-engah seperti habis maraton. Sepasang bukit dadanya yang indah itu ikut turun naik mengikuti irama nafasnya. Sepasang bukit indah itu sekarang berwarna kemerahan dan mengkilat basah oleh keringatnya yang membasahi sekujur tubuhnya. Beberapa menit kemudian Linda membuka matanya dan tersenyum manis sekali ke arahku.

"Aduh, Rickie, aku tidak mampu lagi menggambarkan kenikmatan yang aku peroleh ini. Ini benar-benar jauh lebih dasyat dari apa yang diceritakan Lauren, bahkan jauh lebih nikmat dari apapun yang pernah aku banyangkan."

Kemudian Linda mencium pipiku dengan sangat mesra sekali sambil berbisik, "Terimakasih, terimakasih untuk kencan pertamaku yang demikian indah ini."

Kami kembali berpelukan dengan sangat mesra sekali. Dan kali ini kemaluanku yang sudah tegang sejak tadi menonjol keluar menekan celana jeansku dan menekan keras perut Linda sehingga gadis itu segera menyadari apa yang terjadi padaku.

Linda segera melepaskan pelukanku dan melihat ke arah pangkal pahaku, "Aduh, lihat keadaanmu ini."

Linda segera merebahkan kepalanya kedadaku sambil mengusap tonjolan kemaluanku, "Maaf Rickie, aku terlalu bernafsu memikirkan diriku, aku nggak bisa mengendalikan gejolak yang ada pada diriku, sehingga aku sepenuhnya lupa kepada milikmu ini, tentunya kamu sudah terlalu lama kubiarkan menderita dalam ketegangan seperti ini."

Linda segera melepaskan kancing jeansku dengan lemah lembut, "Mari kubantu melepaskan celanamu. Aku sudah tidak sabar lagi ingin melihat monster raksasa ini di tempat terang."

Ketika Linda melepas celanaku, akupun segera melepas t-shirt-ku dan melemparkannya kelantai. Sekarang aku tinggal memakai celana dalam saja, sehingga kemaluanku semakin tampak menonjol keluar. Linda segera mengusap-usap tonjolan itu sambil berguman, "Sepertinya monstermu ini jadi lebih besar dari pada saat di bioskop tadi."

Linda segera melepaskan kaus kaki dan sepatu, kemudian pelahan-lahan menurunkan celana dalamku. Akupun ikut membantu dengan mengangkat pinggulku, dan batang kemaluanku segera mencuat, berdiri tegak dan keras.

"Wah!" seru Linda, "Sangat besar dan keras."

Tanpa melepaskan pandangannya ke arah batang kemaluanku, Linda segera melepaskan celana dalamku, sehingga kini aku telanjang bulat seperti juga Linda. Linda segera merebahkan tubuhnya diatas pahaku dan tangan kanannya meraih batang kemaluanku, sedang tangan kirinya dibawah bolaku.

"Rick, menurutmu kemaluanku indah sekali. Tapi saya kira kemaluanmu juga luar biasa indah."

Tangan Linda menggenggam dan membelai batang kemaluanku dengan gerakan naik-turun, sehingga dari ujung kemaluanku meleleh setetes cairan spermaku awalku yang mengeluarkan aroma yang khas. Linda pun segera membungkukkan kepalanya sambil menjulurkan lidahnya menjilat cairan bening itu.

"Umm," desahnya, "Rasanya nggak jelek juga. Sepertinya aku juga menyukainya."

Linda pun segera mempercepat kocokannya sambil bertanya, "Kamu sudah hampir sampai Rick?"

"Sepertinya nggak terlalu jauh. Melihat tubuhnya yang telanjang seperti ini, mencicipi kelezatan cairan kewanitaanmu dan kamu elus-elus begitu, menjadikan aku sangat terangsang berat, dan sepertinya nggak terlalu lama lagi."

"Boleh kuhisap sampai keluar?"

"Ya!" jawabku cepat, "Tapi kamu melakukan bukan karena aku telah melakukannya kepadamu kan?"

Linda tersenyum manis sambil berkata, "Tentu tidak, aku melakukannya karena memang aku menyukainya. Semenjak Lauren menceritakan kepadaku bahwa dia memasukkan batang kemaluan kemulutnya, aku menunggu kesempatan untuk merasakannya juga. Akhirnya akupun berkesempatan untuk menikmatinya"

Linda menggegam dasar batang penisku dan kemudian menundukan kepalanya dan lidahnya menjilat naik-turun sepanjang dari batang penisku itu. Tubuhku sampai gemetaran menahan rasa geli nikmat akibat sentuhan lidah dengan penisku itu. Apalagi bila ujung lidahnya menyentuh bagian lekukan dibawah topi bajaku yang merupakan daerah paling sensitif di penisku, pinggulku sampai terangkat-angkat menahan nikmat dan geli yang luar biasa.

Linda mengangkat wajahnya, memandangku sambil berbisik, "Kamu menyukainya bukan?"

"Ooohh, yeah. Aku belum pernah merasakan kenikmatan seperti ini selama hidupku."

Linda tersenyum manis, "Aku senang kau menyukainya. Aku ingin kau merasakan kenikmatan sebaik seperti yang kau berikan kepadaku."

Sambil terus menggerakkan tangannya naik-turun, Linda berkata,

"Kalau kau menyukainya, aku sangat senang meneruskannya, aku sangat senang membuatmu bahagia."

Kemudian kembali Linda menundukkan wajahnya dan melanjutkan jilatannya. Mulutnya dibuka dan seluruh bagian topi bajaku dikulumnya dan dihisapnya pelan-pelan.

"Aaahh, oohh," desahku berulang-ulang. Aku benar-benar tidak mampu mengontrol gerakanku. Kenikmatan itu bagaikan aliran listrik, dengan cepat menyebar keseluruh tubuhku. Seperti terserang demam, tubuhku memgigil. Linda melepaskan kuluman penisku, kemudian mengangkat wajahnya sambil berkata,

"Bagaimana dengan yang barusan, lebih nikmat bukan?"

"Oh, Wah, ya ya! Aku tidak pernah merasakan yang senikmat ini sebelumnya."

Dia tersenyum manis dan kembali mengulum penisku, kali ini dia masukkan penisku sepanjang 5 inchi ke dalam mulutnya. Kemudian digerakkan kepalanya naik-turun sambil tangannya juga mengocok batang penisku bagian bawak naik-turun juga. Aku benar-benar kagum akan kepiawaian Linda dalam menangani penisku, sebagai seorang gadis yang belum pernah melihat penis sebelumnya, Linda telah belajar dengan sangat cepat, hanya berdasarkan insting dan sedikit informasi dari teman-teman ceweknya.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, aku merasakan bahwa puncak orgasmeku akan segera sampai. Rasanya aku tidak mampu lagi mengendalikan gairah sexualku, pinggulku bergerak naik turun secara reflex mengikuti alunan gelombang kenikmatan yang datang bertubi-tubi. Mulutku mengerang dan mendesis tiada hentinya. Aku benar-benar hampir tidak percaya bahwa Linda mampu membuatku seperti ini.

"Ohh.. Len, aku hampir keluar," erangku, "Jika kamu teruskan seperti itu mulutmu akan penuh dengan spermaku."

Tapi peringatanku malah membuat aksinya semakin bersemangat. Aku jadi ingat kata-katanya tadi bahwa ia ingin menghisapku sampai keluar, akhirnya aku cuman pasrah dengan tindakannya. Dan sesaat kemudian spermaku benar-benar meledak dimulutnya. Sepertinya Linda juga sudah siap dengan semburan itu, karena kulihat Linda langsung menelan sebagian besar spermaku, sedang sisanya meleleh keluar dari ujung bibirnya, membasahi tangannya. Sementara tangannya masih sibuk mengocok batang penisku sampai penisku tidak mampu lagi mengeluarkan sperma.

Pada saat mencapai puncak klimaksku, seluruh tubuhku terasa mengejang dan bergetar. Kupikir inilah klimaxku yang paling tinggi yang pernah kualami selama ini. Jauh lebih dasyat dan nikmat bila dibandingkan ketika aku melakukannya sendiri. Wah, ini benar-benar luar biasa. Sampai beberapa saat sepertinya aku tak sadarkan dan terkulai lemas..

Kesadaranku mulai kembali ketika kurasakan Linda menciumi seluruh wajahku. Tapi yang membuatku lebih terkejut adalah keadaan penisku. Meskipun baru saja meledakkan sperma yang begitu dasyatnya seperti ledakan gunung berapi, dia masih tegak berdiri, hanya sedikit mengendor, aku yakin dengan kondisinya serperti ini, penisku masih mampu untuk menjebol keperawanan seorang gadis. Aku jadi tidak berani membayangkan, apa yang akan terjadi dengan kelanjutan kencan kami ini. Tapi aku berniat membiarkan Linda yang mengambil inisiatif selanjutnya. Apapun yang diinginkannya, aku akan mengikuti dan memenuhinya.

Linda berbaring disebelahku, kami saling tatap tanpa bicara. Wajahnya basah oleh keringat dan di ujung bibir dan pipinya masih tampak sisa spermaku. Meskipun tampak lelah tapi mata itu tampak berbinar-binar, berbunga-bunga dan penuh semangat. Linda-ku jadi tampak lebih cantik dari biasanya. Senyuman bibirnya seperti menyembunyikan suatu rahasia kepuasan dan kebanggaan.

Malam ini Linda benar-benar ingin memanjakanku dan juga mempertunjukan bahwa malam ini segala yang ada pada dirinya hanya diperuntukkan kepadaku. Dengan senyumannya yang teramat manis dan mesra, diraihnya leherku, rambutku dibelai-belai. Tangan satunya mengusap-usap dadaku. Kemudian pelahan-lahan tangan itu turun menyusuri perutku. Dengan penuh sensual tangannya digerakkan ke bawah, terus ke bawah, sampai menyentuh hutan belantara di pangkal pahaku. Dan batang peniskupun digenggamnya dengan lembut sekali. Senyumannya tampak semakin manis ketika merasakan bahwa batang penisku masih tegak mengeras.

Matanya berkedip-kedip manis sekali. Seingatku aku belum pernah melihat sebelumnya. Linda berbisik lembut, "Bagaimana kau bisa keras dan tegang seperti ini? Padahal baru saja orgasme? Apa yang membuatmu jadi seperti ini? Apakah aku sudah melakukannya dengan baik?"

Akupun tersenyum manis sambil berbisik, "Itu adalah klimaksku yang paling dasyat yang pernah kualami. Akupun juga heran bahwa penisku masih tetap tegang. Kupikir itu semua karena kamu. Kau memberikan kencan yang paling luarbiasa, dari yang diharapkan oleh semua pria."

Linda tidak langsung merespon pujianku, dia hanya menatap mataku sambil tersenyum manis. Kemudian dia berkata pelan setengah berbisik, "Terima kasih. Kamu telah memberikan yang terbaik buat kencan, seperti yang diharapkan oleh semua gadis." Kemudian kami berciuman dengan sangat mesra sekali.

Kali ini ciuman kami sangat sangat lembut dan mesra tanpa dibumbui gairah birahi. Sepertinya Linda ingin menunjukan betapa besar kasih sayangnya kepadaku. Tapi kemudian pelahan-lahan permainan kami semakin memanas kembali. Gesekan-segesan kulit tubuh kami yang telanjang bulat membuat kami tidak bisa mengendalikan emosi gairah sexual kami.

Linda tersenyum dan berbisik, "Sebenarnya aku ingin menunggu beberapa saat lagi untuk memulai permainan kita, tapi sepertinya aku tidak bisa mengendalikan lagi, gairahku sudah terlalu tinggi."

Kuraba pangkal paha Linda dan kususuri celah-celah vaginanya. Memang daerah itu terasa hangat dan basah. Kurebahkan tubuh Linda terlentang, kemudian aku duduk disampingnya, sementara tanganku masih berada diantara paha Linda.

"Sepertinya daerah ini selalu hangat dan basah, tapi aku akan menanganinya dengan manis. Kamu santai saja berbaring, nggak usah terlalu tegang, enjoy dan nikmati saja apa yang kulakukan."

"Tapi bagaimana dengan kamu sendiri?" tanya Linda.

Aku tersenyum dan berkata, "Aku akan dapat gilirannya nanti, laki-laki berbeda dengan wanita yang bisa orgasme setiap saat. Tapi nggak usah khawatir, malam ini aku masih bisa orgasme beberapa kali lagi. Sekarang kamu cukup konsentrasi untuk dirimu sendiri, nikmati yang bisa kau dapatkan. Aku akan sangat bahagia dan puas bila bisa membuat dirimu puas, OK?"

"OK, " katanya sambil tersenyum, "Aku cuma ingin meyakinkan bahwa malam ini kau juga menikmati seperti yang aku dapatkan."

"Setiap kali kau merasakan nikmat, aku juga ikut puas dan bahagia seperti dirimu."

"Aku tahu yang kau maksudkan. Tadi ketika kau meluar dimulutku, aku sepertinya juga ikut keluar hanya karena melihat reaksimu ketika mencapai klimaks."

"OK, itu yang kumaksudkan. Sekarang tidur saja terlentang dan biarkan sepupumu mengisi acara kencan pertamaku ini dengan baik. Tubuhmu yang sangat aduhai ini akan membuat setiap laki-laki dengan suka rela melakukan apa saja buatmu."

"Dan kemudian ML," bisiknya dengan senyuman menggoda sambil mengangkat pinggulnya dan memutar-mutar dengan gerakan sangat sexy. "Sentuhkan bagian manapun yang kau inginkan dan buatlah aku mencapai orgasme sebanyak yang kau mampu lakukan."

Kuletakkan tanganku di atas bukit dadanya sambil berbisik, "Kenapa tidak kumulai dari sini saja? Kau memiliki sepasang bukit dada yang paling sexy diantara gadis-gadis di sekolah."

Linda membusungkan dadanya ketika tanganku mengelus-elus bukit-bukit yang mencuat indah tersebut.

"Aku tidak yakin apakah payu daraku paling bagus, tapi memang mata mereka selalu melototi bagian ini. Umm.. Yess.. Sentuh disitu, ya ya, putingnya juga."

Aku tahu bahwa Linda sangat senang bila tanganku meraba-raba sepasang bukit dadanya, dia juga sangat menyukai bibir dan lidahku bermain disana.

Kuturunkan wajahku dan kusapu seluruh permukaan bukit-bukit indah itu. Kujepit putingnya sebelah kiri dengan bibirku, kemudian kutarik ke atas sampai terlepas. Putting itu bergoyang-goyang sangat indahnya. Kulihat putingnya semakin mengeras dan mencuat runcing. Kutangkap lagi puting itu dengan bibirku, kuhisap-hisap dan kukilik-kilik dengan lidahku.

Kedua tangan Linda meraih leherku sambil mendesah desah, "Ohh, yes. Enak sekali.. Ooohh.. Benar-benar sangat luar biasa sekali."

Bukan hanya Linda yang sangat senang, kukira semua laki-laki termasuk juga saya akan sangat senang untuk menangani bukit-bukit yang aduhai ini. Dengan penuh gairah aku pindah ke puting Linda yang satunya lagi, kembali kukerjai puting ini seperti tadi. Putting-puting itu telah basah oleh lidahku. Sementara aku mengerjai satu puting, puting lainnya kupilin-pilin dan kuremas-remas pelahan dengan tanganku. Kulihat puting Linda semakin keras dan merah, sehingga tampak semakin indah menggemaskan. Suara erangan dan gerakan tubuh Linda semakin liar, kelihatannya daerah ini juga memberikan sensasi birahi yang tak kalah behatnya dengan daerah pangkal pahanya. Ini benar-benar membuatku semakin penasaran, dan aku berjanji pada diriku sendiri, untuk menjelajahi seluruh bagian tubuh Linda agar aku tahu bagian mana saja dari tubuhnya yang bisa menimbulkan sensasi kenikmatan dan meningkatkan gairah sex-nya.

Sambil terus mengerjai bukit-bukit indahnya itu, aku mulai menggapai sasaran lainnya. Tanganku satunya kuturunkan dan kembali menjangkau daerah V-nya. Jari-jariku kugerakkan naik turun menyusuri bibir vaginanya yang tebal itu. Dan setiap kali menyentuh tonjolan clitorisnya, kupijat-pinyat dan kutekan-tekan pelan-pelan. Linda sepertinya sudah mulai mendekali puncak klimax-nya, tubuhnya menggeliat-geliat semakin cepat sambil merintih dan mendesis semakin keras. Pahanya dibuka semakin lebar agar tanganku lebih mudah mengeksplorasi daerah itu.

Aku semakin terpesona dengan reaksi sensualitas Linda. Aku hampir tak percaya dengan kenyataan ini. Sepupu ku yang tadi sore masih begitu lugu dan pendiam, sekarang berubah menjadi begitu liar dan menggairahkan. Benar-benar sulit dipercaya kalau sepupu ku ini masih berstatus perawan. Mungkin dia memang benar-benar masih perawan, tapi ternyata secara diam-diam memiliki bakat sexualitas dan gairah birahi yang sangat tinggi sekali.

Linda sepertinya semakin tidak sabar lagi menahan gairah birahinya yang sudah meluap-luap, dia raih kepalaku dan meremas-remas rambutku sambil berseru setengah menangis,

"Ohh, Rick, kau jangan menyiksaku lagi. Sentuh vaginaku, buatlah aku segera mencapai klimax lagi, aku.. Aku sudah tak tahan lagi, oohh.."

Rintihan Linda itu membuat gairah Rickie semakin menggebu, jari-jari tangannya semakin aktif mengosok-gosok celah-celah vertikal dipangkal paha Linda. Daerah lipatan yang lembut hanyat itu semakin dibanjiri dengan cairan vagina kental dan licin. Rickie benar-benar tidak paham, bagaimana vagina Linda bisa memproduksi cairan yang sepertinya tak habis-habisnya itu. Dan kepekaan daerah itu begitu luar biasanya sehingga gairah gadis ini begitu cepat bergolak hanya dengan sedikit sentuhan saja. Gerakan tubuh Linda semakin liar, pinggulnya diangkat-angkat semakin tinggi.

"Yess.. Ooohh, aahh.."

Pada saat Linda semakin terbuai oleh gairah birahinya, aku mencoba untuk memasukkan ibu jariku ke liang kecil itu. Kutekan-tekan ujung ibu jariku sehingga melesak masuk satu ruas. Mungkin karena gairahnya sedang demikian tingginya dan juga dibantu oleh cairan vaginanya yang licin itu, aku tidak mendapat kesulitan yang berarti untuk memasukkan satu ruas ibu jariku dan sepertinya Linda juga tidak mengalami ataupun merasakan kesakitan.

Setelah itu dengan gerakan lambat kuputar ujung ibu jariku sambil kugerakkan naik-turun. Linda segera merintih setengah menjerit ketika tiba-tiba merasakan sensasi baru di vaginanya yang demikian luar biasa. Kali ini hampir seluruh tubuhnya terangkat-angkat sambil tanganya meremas seperai kuat-kuat.

Aku benar-benar terkagum-kagum dengan gerakan-gerakan Linda yang sangat merangsang, spontan, alami dan liar. Jauh lebih merangsang dari pada yang ada di film X-Rates, yang kelihatan seperti dibuat-buat dan dipaksakan. Pemandangan yang demikian menggairahkan ini membuat penisku menjadi sangat tegang sekali, bahkan sepertinya aku hampir saja membuatku orgasme, kalau aku tidak cepat-cepat mengalihkan konsentrasiku.

Disamping itu ada yang lebih penting lagi yaitu Linda masih perawan seperti juga aku, aku tidak ingin merusak keperawanannya. Apalagi hanya dengan ujung jariku. Aku benar-benar tidak berani melangkah lebih jauh kecuali dengan seijinnya dan memang Linda juga menginginkannya. Dan seandainya itu harus terjadi, aku menginginkannya dilakukan dengan cara dan suasana yang sangat indah dan mengesankan, sehingga akan menjadi kenangan yang paling manis dan indah dalam hidup kami berdua.

Untuk mengalihkan perhatian dan sekaligus semakin meningkatkan gairahnya, aku melakukan percobaan lain lagi. Sementara ujung ibu jariku masih mengobok-obok liang vagina Linda, jari telunjukku kugosokkan kebawah, ke lubang anusnya. Dari buku yang pernah kubaca, aku tahu bahwa lubang anus adalah juga termasuk salah satu daerah sensitif wanita. Maka ketika ujung jari telunjukku kumasukkan ke lubang anus Linda dan menggerakkannya keluar-masuk, Linda tersentak kaget.

"Oh, Rickiiee.. Apa yang kau lakukan? Ohh, jijik!" seru Linda sambil mengangkat pinggulnya,

"Ooohh, tapi enak sekali, jijik.. Tapi enak, oohh.. Enak sekali kau sentuh disitu.. Ooohh yes.. Yess, " bisik Linda.

"Aha," pikirku, "Aku menemukan daerah erotic baru."

Aku sangat senang sekali atas temuan baru ini, yang tentunya akan kupraktekkan di lain kesempatan. Gairahku semakin terpacu untuk menjelajahi dan menemukan semua fantasi dan gairah sexual di tubuh sepupu ku. Suatu hal yang tadinya tidak pernah terpikirkan olehku. Dan aku yakin, sebelum malam minggu ini berakhir, aku akan mendapatkan lagi temuan-temuan baru tentang rahasia sexual kewanitaan Linda.

Dua ujung jariku masih terjepit kuat di dua lubang tubuh Linda. Kugerakkan jari jari tersebut keluar-masuk lebih cepat sambil kuputar-putar. Khusus dilubang anusnya, kutusukkan jari telunjukku semaksimal mungkin sehingga jari telunjukku tenggelam semua. Sementara aku tidak berani memasukkan ibu jariku lebih dalam lagi ke liang vaginanya, karena takut merusakkan selaput daranya.

Disamping itu bibirku tidak berhenti menghisapi dan memilin-milin puting susunya serta meremas-remas bukit dadanya dengan tanganku yang lain. Kali ini Linda benar-benar disiksa oleh serangan gencar yang datang dari berbagai penjuru. Mulutnya merintih-rintih setengah menangis sambil tubuhnya menggeliat-geliat tiada hentinya.

Tak lama kemudian Linda berteriak keras, "Ohh, Rick!!" tubuhnya mengejang, tangannya meraih bantal kemudian digigitnya keras-keras sambil menangis dan merintih kenikmatan. Kali ini Linda benar-benar menikmati pengalaman orgasme yang teramat dasyat, yang membuat sekujur tubuhnya seperti mau mededak. Akulah satu-satunya orang yang membuatnya seperti itu, aku benar-benar bersyukur untuk ini semua.

Perlahan-lahan tubuh Linda relax kembali dan tubuhnya terkulai lemas seolah tidak bertulang lagi, dan napasnya masih menderu-deru. Akupun tidur sambil memperhatikan dahsyatnya reaksi orgasme yang baru dialami sepupu ku ini. Matanya tertutup rapat, wajahnya merah padam dan mulutnya terbuka. Sepasang bukit didadanya naik turun mengikuti nafasnya yang berpacu cepat. Benar-benar pemandangan yang sangat mempesona sekali.

Sesaat kemudian Linda membuka matanya.

"Ohh, Rick," bisiknya, "Benar-benar luar biasa. Aku hampir tidak percaya bisa mengalami orgasme yang begitu dasyat. Aku benar-benar meledak. Benar-benar sulit dipercaya, begitu nakal menjijikkan tapi begitu nikmat sekali. Aku sangat menyukai bagian yang nakal tadi. Aku sangat menyukai kau melakukannya."

Dipeluknya tubuhku dengan mesra sekali sambil berbisik, "Oh, Rick, aku benar-benar bahagia dengan kencan kita ini." Diciuminya wajahku dengan wajah berbinar-binar.

Kami berbaring saling berhadapan, saling pandang tanpa berkata apa-apa, mata kami saling menjelajahi ketelanjangan tubuh kami, kami sangat senang dengan ketelanjangan kami dan juga sensasi gairah sexual yang kami lakukan. Linda akhirnya memecahkan kebisuan itu.

"Kau masih ingat ketika aku cerita tentang Lauren yang mengatakan kepadaku tentang menghisap penis?"

Aku mengangguk, dan Linda melanjutkan lagi, "Kamu paham, kau tidak boleh cerita kepada siapapun tentang hal itu! Lauren mengatakan itu adalah rahasia sangat besar, dan aku harus bisa menjaga kepercayaannya kepadaku. Maukan kamu berjanji tidak akan cerita kepada siapapun?"

"Jangan khawatir, bibirku akan selalu terkunci rapat," kataku meyakinkan Linda.

Linda juga mengatakan bahwa Lauren tertarik kepada dirinya. Aku juga tidak ingin merusak reputasi dan masa depan gadis secantik Lauren, meskipun terjadi suatu perubahan besar dimasa datang, aku akan tetap menjaga kerahasiaan ini.

"Bagus," kata Linda, "Sekarang aku tidak khawatir tentang itu."

Linda melanjutkan lagi, "Aku tidak akan pernah lupa ketika Lauren menceritakan kepadaku tentang rahasia besarnya itu. Lauren dan aku mempunyai banyak kesamaan dan menjadi teman sangat akrab sehingga aku mendengar banyak rahasia tentang dia. Suatu hari ketika sedang makan siang kami berbincang-bincang tentang seorang gadis di kelas kami yang dengan bangga menceritakan bahwa dia telah menaklukan seluruh anggota team baseball. Si gadis mengklaim bahwa dia telah membuat lima anggota team orgasme dengan cara menghisap penis mereka, dan menelan semua spermanya. Aku sangat tercengang-cengang dan tidak percaya dengan cerita itu, tapi Lauren tersenyum dan mengatakan bahwa menghisap penis pria adalah sesuatu yang menyenangkan, dan itu memang bisa terjadi. Kemudian Lauren menceritakan pengalamannya menghisap penis seorang pemuda yang ternyata menyenangkan juga. Sepanjang sore itu Lauren telah menghisap dan menelan semua sperma pria itu sebanyak tiga kali. "

"Lauren Wilton yang kau maksudkan? Lauren yang pemalu dan pendiam itu?"

"Tahukan, kenapa aku katakan bahwa Lauren bukan seorang gadis pemalu. Dia menceritakan bahwa pada saat yang sama pemuda itu juga menghisap dan menciumi vaginanya, sehingga Lauren sampai orgasme empat kali. Lauren menceritakan betapa nikmatnya ketika pemuda itu menghisap dan menciumi vaginanya, yang membuatnya mencapai puncak orgasme yang luar biasa sekali. Kamu bisa bayangkan bahwa cerita itu membuatnya sangat terangsang sehingga hampir membuatku orgasme saat itu. Celanaku sudah basah kuyup. Aku segera menggantinya diruang ganti wanita dan melakukan masturbasi sebelum mengikuti pelajaran berikutnya."

Aku benar-benar sulit mempercayai cerita Linda ini, tapi tidak ada suatu alasan buatnya untuk membuat cerita bohong kepadaku. Aku juga tahu kedekatan Linda dan Lauren. Mereka berdua dari luar sepertinya sangat pendiam, gadis kecil yang lugu, tapi gejolak gairah sexualnya yang sangat panas tertutup rapat oleh penampilannya yang dingin. Linda telah membuktikan kepadaku selama kencan kami ini. Mungkin selanjutnya pada Lauren juga. Wah, aku benar-benar seorang pemuda yang sangat beruntung, saat ini, adik kecilku yang begitu hot terbaring dengan telanjang bulat dalam pelukanku dan keadaan yang serupa kemungkinan bisa pada temannya yang sexy itu.

"Lauren telah berhasil menyimpan rahasia itu dengan baik. Biasanya ketika seorang gadis mendapatkan pengalaman yang sangat baik, mereka sulit untuk tidak menceritakan ke orang lain, " kataku.

"Itu tidak tepat juga. Itulah pentingnya agar kita tidak menceritakannya kepada orang lain. Termasuk apa yang kita lakukan berdua. Kita yakin tidak akan cerita bukan?" bisik Linda.

"Wah, pasti tidak!" kataku, "Mama dan Papa bisa membunuh kita kalau mereka tahu, dan teman-teman kita juga bisa mentertawakan dan mencemooh kita."

Linda tersenyum manis dan berkata, "Tapi bukan berarti kita mengakhirinya bukan?"

"Tidak!" kataku sambil tersenyum juga, "Itu berarti kita harus semakin hati-hati, sehingga orang tua kita tidak curiga. Disamping itu, aku tidak yakin lagi melakukan masturbasi sendiri setelah tahu kau bisa memberikan yang jauh lebih baik."

"Aku juga, " bisik Linda, "Aku sangat menyukai caramu membuat aku orgasme." Kata Linda sambil mencium bibi



Ngentot Linda Sepupuku Yang Cantik

based on 99998 ratings.

5 user reviews.

.