Kasus Pemerkosaan Alyssa Soebandono

Diposkan oleh Om Kumis on Jumat, 14 Desember 2012



Kulihat acara iklan dilayar TV, muncul sesosok wanita muda cantik, dengan senyum lesung pipitnya yang khas. Ini dia artis Indonesia yang sedang naik daun, Alyssa Soebandono.

Namaku Firman, lahir dari sebuah keluarga sederhana dipinggiran kota besar, Jakarta. Ibuku hanya seorang penjual gorengan disaat pagi sedangkan bapak hanya seorang supir angkutan umum. Aku dan adikku harus hidup dalam kesederhanaan, demi pendidikan adikku akhirnya aku harus mengalah dan menunda kuliah, dan terpaksa mencari pekerjaan yang aku bisa. Memang aku sudah terbiasa bekerja keras dari kecil, tapi mencari pekerjaan bagus dengan modal ijazah SMA dan keahlian yang pas-pas'an di kota keras seperti Jakarta ini, apa yang bisa aku harapkan. Beberapa bulan lalu aku sempat bekerja membantu bapak menyupir angkutan umum, tapi aku tidak sanggup dengan pekerjaan yang sangat melelahkan itu. Akhirnya aku berhenti dan sekarang mencoba mencari pekerjaan lain.

Kuambil sepeda motor bututku, hasil uang tabunganku dan uang kerja keras bapakku. Aku berjalan perlahan sambil melihat barangkali ada lowongan pekerjaan hari ini dan mungkin aku bisa lebih beruntung daripada kemarin, jadi penjaga toko atau tukang antar minuman gak masalah buatku. Akhirnya ada sebuah toko photocopy yang mencari pegawai baru, kuparkir motorku, dan coba aku tanyakan tentang lowongan itu.

"Misi om, lagi cari pegawai baru ya??"tanyaku kepada si pemilik toko

"Ya, saya lagi cari orang nih, ade mau coba kerja disini?"tanya pemilik toko tadi

"Iya nih om, saya lagi cari pekerjaan, kira-kira pegawai macam apa yang lagi om cari ya?"

"Hmmm, gak ada sarat sih, yang penting rajin dan jujur ajah, bisa mengoprasikan mesin foto copy, jilib, laminating, seputar itu lah kira-kira"jawab pemilik toko

"Wah, boleh lah kalau itu saya bisa"balasku semangat

"Boleh...eh tapi tunggu, ade bisa Photoshop kan??"tanya pemilik toko

"Photoshop...aduh...."balasku langsung lemas

Setelah tau aku tidak mahir menggunakan komputer, pemilik toko tadi langsung ragu menerimaku. Ya beginilah susahnya orang tanpa keterampilan, jangankan photoshop, mengoprasikan komputer saja aku masih belum begitu mengerti. Aku pergi dari toko itu dengan wajah lesu dan kembali aku berjalan menyusuri beberapa pertokoan disekitar situ. Banyak lowongan, tapi tidak ada satupun yang sesuai dengan keahlianku.

Panas matahari siang membuat tenggorokanku kering, aku melihat ada seorang penjual minuman dijalan kearah sebuah komplek. Kuparkir motor bututku dan duduk disebuah bangku kecil didekat penjual minuman tadi. Kupesan sebotol minuman ringan dan kulepaskan dahaga dan semua lelahku.

"Wah mas, keliatannya cape banget nih?"sapa si penjual minuman

"Hahahah, ia mas, lagi cari kerjaan, muter-muter dari pagi gak dapet juga"eluhku

"Waduh mas, susah emang cari pekerjaan, kalau gampang sih saya gak jadi penjual minuman gini"jawab si penjual minuman

"Iya mas, lowongan sih banyak, tapi gak ada yang saya bisa"balasku

"Loh?emang mau cari pekerjaan kayak apa toh mas?"tanya si penjual minuman

"Ya apa aja mas, asal saya bisa, ya paling kerja kotor, pake otot bukan otak"eluhku lagi

"Hhhmmmm...jadi tukang kebun mau gak mas??"jawab si penjual minuman tadi

"Emang ada lowongan? dimana?"tanyaku semangat

"Seingat saya sih tadi ada papannya, disalah satu rumah dikomplek ini"jawab si penjual minuman

"Wah, boleh lah saya coba, didalam sini kan??"tanyaku lagi

Kami mengobrol sejenak, lalu aku habiskan minumanku, bayar, dan langsung pergi menuju tempat yang dimaksud si penjual minuman tadi. Perumahan ini bukan perumahan sembangaran, dilihat dari rumahnya sih isinya pasti orang-orang kaya raya, disetiap rumah pasti ada sebuah atau beberapa buah mobil yang diparkir. Aku memutar motorku, menuju kesebuah rumah diujung jalan. Nah, ini mungkin rumah yang dimaksud si tukang minuman tadi, ada sebuah papan bertuliskan dicari tukang kebun.

Kuparkir motor bututku didepan gerbang rumah itu, kupencet bel yang ada dibalik pagar rumah. Tidak beberapa lama seorang wanita mengintip dari balik pagar.

"Ya mas, cari siapa yah?"tanya wanita itu

"Mba lagi cari tukang kebun yah?"tanyaku

"Bukan saya, saya mah juga kerja disini mas, nyonya yang lagi cari tukang kebun"balas wanita itu yang ternyata salah satu pembantu dirumah itu

"Oh, maaf, hahaha, saya kirain mba yang punya rumah"balasku malu

"Emang saya ada tampang orang kaya apa mas, hahahaha. Mari mas masuk dulu, biar saya panggilkan nyonya"tawar ramah dari pembantu itu

Aku pun masuk kedalam rumah itu. Dilihat dari kondisi rumahnya, sepertinya pemilik rumah ini baru pindah, mungkin sekitar satu tahun atau dua tahun, karena cat serta bagian rumah lain yang jelas masih terlihat baru. Aku duduk dibangku diteras depan rumah itu, beberapa saat kemudian seorang wanita tua berjilbab keluar dari dalam rumah bersama si pembantu tadi, ah ini pasti nyonya yang dimaksud, tapi kok aku kayak pernah liat mukanya yah, dimana ya...

"Ini bu yang cari pekerjaan"pembantu itu coba membuka pembicaraan

"Oh, ayo dek silahkan duduk"sapa si tuan rumah marah

"Ia bu, saya mau melamar jadi tukang kebun disini"ujarku

"Sudah ada pengalaman jadi tukang kebun sebelumnya?"tanya wanita tua si pemilik rumah

"Pernah bu, sekitar dua satu tahun lalu, kalau gak salah sih hampir 8bulan lah saya kerja jadi tukang kebun"jawabku

"Yasudah, kamu coba saja kerja dulu disini, kalau kerjaanmu bagus, kamu boleh kerja terus disini"ujar si pemilik rumah

Waduh senangnya akhirnya aku bisa dapet pekerjaan juga, setelah seharian aku mondar-mandir keliling Jakarta. Aku segera pulang, berniat untuk istirahat dan mempersiapkan diri untuk kerja keesokan harinya.

Sinar matahari belum muncul, tapi aku sudah bangun, menyiapkan air untuk adikku sekolah, dan mencuci beberapa pakaianku. Bapak masih terlelap, sedangkan ibu sudah dari pukul tiga dinihari bangun dan memasak, ya ibu memang menjual makanan dipagi hari, untuk sarapan orang-orang yang akan berangkat ke kantor. Pukul 6.30 pagi aku berangkat dari rumahku menuju tempat kerjaku yang baru sambil mengantar ibu kewarungnya. Sekitar 15 menit perjalanan dengan motorku akhirnya aku sampai dirumah itu, pembantu kemarin yang ternyata bernama Timah langsung membukakan pintu untukku.

"Motornya diparkir didalam aja mas"ujar Mba Timah

"Ok, makasih ya mba"balasku

Kuparkir motor dihalaman belakang sesuai yang diarahkan Mba Timah, segera kusiapkan alat-alat dan kumulai pekerjaanku, sedangkan Mba Timah kembali kedalam mengurusi pekerjaannya. Kupotong beberapa tanaman yang sudah panjang, memotong rumput, dan membersihkan halaman rumah yang penuh dengan sampah daun kering. Saat sedang asik menyapu halaman, kulihat ada seorang wanita keluar dari pintu samping rumah. Memakai sebuah baju terusan berwarna putih, dari kejauhan saja wanita muda itu terlihat cantik, walaupun wajahnya samar-samar aku lihat. Aku penasaran dan mencoba mendekat sambil berpura-pura menyapu sampah, semakin dekat, dan dekat.

ASTAGA!!Wanita muda tadi ternyata ALYSSA SOEBANDONO!! Ya artis itu, artis yang kemarin pagi aku lihat iklannya ditelevisi!! Aku kaget tidak percaya, artis yang kmarin aku bayang-bayangkan sekarang aku bisa lihat didepan mukaku, ya itu gak mungkin salah, benar-benar sama. Alyssa keluar untuk memberitahukan kepada supir untuk menyiapkan mobil. Aku jadi semakin semangat bekerja. Tak lama setelah itu, Alyssa pergi bersama supirnya dengan sebuah mobil APV berwarna hitam.

Panas matahari begitu menyengat, untung sudah kukerjakan semua tugasku hari ini, saatnya beristirahat diruang khusus para pembantu disini, sambil mengobrol dengan Mba Timah dan seorang pembantu wanita lain.

"Waduh mba, gak nyangka saya, bisa kerja ditempatnya artis!"ujarku norak

"Walah mas ini, gitu saja kok heboh sekali"jawab seorang pembantu wanita yang bernama Suanah

"hehehe, ya maklum toh mba An, wong saya belum pernah lihat artis langsung didepan muka saya"

"Iya An, biarin aja, dulu kamu waktu baru kerja disini juga kaget kan, apalagi si Pendi itu, wualah senangnya dia bisa jadi supir artis"tegas Mba Timah

"Oh jadi nama supirnya mba Alyssa itu Pendi toh"balasku heran

-----------------------------------------------------------------------------------

Tak terasa sudah 4 bulan aku bekerja ditempat artis Alyssa Soebandono sebagai seorang tukang kebun, aku sudah akrab dengan semua pembantu disini, dan aku pun sudah pernah beberapa kali berbincang dengan mba Alyssa, orangnya memang sangat ramah dan sopan. Meskipun dia artis tapi dia tidak pernah sombong bahkan mau berbicara dengan orang rendahan seperti aku ini. Kusiram tanaman-tanaman ditaman, tiba-tiba aku dikagetkan Mas Pendi dari belakang.

"DOR!!Kerja sing bener koe Man"kejut Mas Pendi

"Wualah, mas Pendi iki, seneng banget buat aku jantungan. Loh gak nganterin mba Alyssa mas?"tanyaku

"Libur Man, hari ini kan nyonya sama tuan mau keluar kota"terangnya

"Oh, mba Alyssa ikut toh??"tanyaku

"Ya gak, mba Alyssa kan banyak acara, sore nanti juga pergi"jawab mas Pendi

"Loh terus apa hubungannya sama kepergian nyonya sama tuan??"tanyaku heran

"Ya gak ada hubungannya cuma ngasih tau aja kok, hahaha"jawab mas Pendi aneh

"Sering ya mas mba Alyssa ditinggal sendiri??"tanyaku

"Ya beberapa bulan sekali Man, kalau bisa ikut sih mba Alyssa ikut, tapi sayang kerjaannya banyak, maklum lagi naik daun"ujar mas Pendi

"Woalah, jadi artis gak enak juga ya mas, sibuk"balasku

"Iyalah, duit'e kenceng Man, oh iya nanti malam sibuk gak, temenin aku yah disini, kayak biasa lah nonton bola"tawar mas pendi

"Wokelah mas, atur ae"jawabku

Dan seperti rencana kami, malam itu aku menemani mas Pendi dirumah mba Alyssa. Sekitar pukul 11 malam, aku keluar untuk membeli makanan dan sebuah botol minuman keras, ya cuma untuk anget-anget badan aja kok. Lima belas menit kemudian aku kembali kerumah dan kami sudah siap menikmati pertandingan bola malam yang, partai perempat final, pasti seru nih.

"Diem-diem, ketauan Mba Timah bisa kena semprot nanti"ingat Mas Pendi

"Iyo-iyo, kayak baru pertama kali aja mas ini"balasku

"ya jaga-jaga toh Man, lagian mumpung gajian kan kita bisa minum-minum"balas Mas Pendi

"Hayo! ketauan kalian!"bentak suara sangar seorang pria dari belakangku

"Hoalah biawak! Sontoloyo koe Mo! bikin jantung copot!"bentak mas Pendi

"Hahahahha, kalian minum gak ajak-ajak, ono piro mas? setok yo?"tanya Mas Darmo, seorang satpam dirumah ini

"Iya, mau nambahin apa Mo?"tanya mas Pendi

"Iya, kurang satu, aku gi pengin nginum mas"ujar mas Darmo

"Yaudah, mana duitnya, saya yang beli, berapa botol lagi nih?"tanyaku

"Dua lagi aja Man"terang mas Darmo

Aku berangkat membeli dua botol minuman keras lagi. Wah, ada apa malam ini, sepertinya mereka berdua memang niat untuk mabuk. Kalau mas Pendi mah wajar, tapi mas Darmo dasar gila memang, satpam malah mabuk-mabukan, payah. Tapi, ya apa boleh buat toh mereka senior disini, jadi aku ikut saja, gak keluar duit, hehehhe. Setelah membeli minuman aku langsung pulang dan kami pun memulai acara kami bertiga.

Udara dingin malam tidak terasa lagi, effect panas dari minuman ini sudah membuat tubuhku kebal. Wajah mas Darmo dan mas Pendi sudah merah, tapi mereka memang rajanya minum, masih bisa serius nonton bola, padahal mereka minum yang paling banyak. Sedangkan aku baru minum beberapa tenggak saja, kepalaku sudah pusing. Tiba-tiba aku kebelet buang air kecil, pamit kepada kedua seniorku, aku menuju kamar mandi pembantu dihalaman belakang rumah besar Alyssa Soebandono. Aku masuk kekamar mandi, huaahh lega rasanya, kusiram dan aku segera kembali keluar menuju ke tempat kedua seniorku tadi. Tiba-tiba aku lihat sebuah benda yang mengganggu konsentrasiku, wah pakaian dalam. Punya siapa yah punya Mba Timah lagi, aku pun penasaran dan coba mendekat kearah beberapa jemuran. Wah, ini sih jemurannya yang punya rumah, bajunya bagus-bagus dan gak mungkin pakaian dalam pembantu dicampur satu sama pakaian dalam yang punya rumah ini. Ada beberapa pakaian dalam, tapi ada satu pakaian dalam yang membuatku tertarik. Sebuah celana dalam berwarna pink dengan sebuah pita kecil dibagian depannya, pasti ini punya mba Alyssa. Entah keluar pikiran tolol darimana atau mungkin karena pengaruh alkohol, kuambil celana dalam itu, kuraba perlahan sambil berucap dalam hati "ini celana dalamnya Alyssa Soebandono, gila!".

Dari sekedar meraba-raba, aku mulai mencoba menciumnya, kucium celana dalam itu tempat dibagian depannya. "eeeemmm...memeknya Alyysa soebandono biasanya dibungkus pake ini, gimana ya rasa memeknya, eeemmmmm". Aku terus menciumi celana dalam Alyysa, sambil membayangkan betapa indahnya tubuh topless Alyssa dengan memakai celana dalam ini. Saat sedang asik berhayal, aku dikagetkan oleh sebuah tepukan dipundakku.

"WOI!!!"bentak suara dibelakangku

"MemeK!!!!"teriakku spontan

"Bwakwkakwakwka, goblookk, ssttttt, sssttt, bwakwkakwakwa, goblok tenan koe Man Man, abwakwakwka"ternyata itu adalah Mas Pendi

"Mas, pendi gila, hampir aku mati jantungan mas, wualah asem lah"ujarku terkaget hampir mati

"HAhahahahah, gila koe Man, kolor'e mba Alyssa diciumin, stress"ledek mas Pendi

"Aduh, malu aku ketauan, taro lagi deh, takut ketauan"jawabku malu bercampur takut

"Gapapa man, aku juga sering, jangankan kamu tukang kebun, aku yang setiap hari ketemu dan jalan sama mba Alyssa, bbeeehh gak tahan pengen nyoblos memeknya"jujur mas Pendi

"Wah yang bener mas??"tanyaku kaget

"iyah, hmm sini ikut aku..."ajak mas Pendi

Aku mengikuti mas Pendi kearah gudang. Lalu mas Pendi memanjat dicelah antara gudang dan bangunan rumah utama. "Ayo Man, ikut pelan-pelan yah",perintah mas Pendi sambil terus naik. Kami pun sampai disebuah celah kecil dimana kami bisa berdiri, mas Pendi berjalan perlahan memutar, kearah samping "Ayo"ujarnya. Aku mengikutinya, sampai kami sampai disebuah balkon, didepan kamar. Mataku langsung melotot ketika melihat siapa yang ada didalam kamar, ALYSSA SOEBANDONO!!! ada yang pernah melihatnya lagi tidur??? apa pernah kebayang sebelumnya???

Mas Pendi cengar-cengir menatapku. Sedangkan aku masih tidak percaya dengan apa yang aku lihat.

"Gimana Man, daripada liatin kolornya, mending liat orangnya langsung, iya gak??"ujar mas Pendi bangga

"Gila mas, ini gak ada yang liat apa? aman gak nih?"tanyaku cemas

"Bego, liat kesana, rumah itu udah lama kosong, ini tempat yang gak bisa dilihat dari manapun kecuali dari rumah itu"jawab mas Pendi

"Cantik loh mas, sumpah"ujarku kagum

"Ya cantik alami Man, beda sama artis lain, masih mudah, sukses, baik lagi, ck ck ck ck"lanjut mas Pendi

Tempat aku dan Mas Pendi berdiri adalah sebuah teras tepat didepan kamar Alyssa. Jendela kamar Alyssa besar, tirai tidak begitu ditutup rapat, tanpa mengintip pun aku bisa melihat jelas Alyssa tidur dengan lampu remang, karena jarak jendela dengan kasur Alyssa tidak begitu jauh. Posisi tidurnya menyamping kearahku, wajah polosnya saat tidur sangat cantik dengan piyama berwarna merah jambunya.

"Pernah masuk mas?"tanyaku berani

"Kamu gila?"geleng mas Pendi

"Kenapa gak kita coba?"ajakku nekat

"Aku masih mau hidup normal Man, mau kamu hidup dipenjara??"tanya Mas Pendi takut

"Ah mas ini, dia artis, kalau kita perkosa dia, apa berani dia ungkapin ke muka umum?? mau ditaru mana mukanya???"yakinku

"Gila kamu man, aku gak berani!! aku masih mau kerja!! mabok kamu!!"ujar mas Pendi mulai takut

"Yasudah, mas boleh bunuh aku, atau apalah kalau rencanaku sampai gagal!!"tantangku dan niatku sudah bulat, karena aku sudah tidak tahan lagi

"......."mas Pendi bingung

"Kita cuma lihat ajah, habis itu langsung pergi, gak pegang-pegang kok"yakinku

Mas Pendi masih ketakutan dan ragu ikut rencanaku, namun aku tidak perduli. Aku melangkah maju, kucoba putar gagang pintu kaca kearah kamar Alyssa, dan ternyata terkunci. Tapi aku tidak kehabisan akan, aku berjalan kearah pinggiran rumah mencari siapa tau ada kawat atau benda apapun yang bisa dipakai untuk membuka pintu.Akhirnya bisa aku temukan sebatang kawat, masalah congkel mencongkel aku ahlinya, aku langsung berusaha membuka pintu kaca dengan keahlianku dan sebatang kawat yang aku bengkokan sedemikian rumah, sementara mas Pendi hanya diam berkeringat melihat aksiku. Dan "KREK!" suara pintu terbuka. Aku membalikan wajah dan tersenyum kearah mas Pendi.

Jantungku berdebar kencang saat kulankahkan kaki masuk kedalam kamar Alyssa Soebandono, harum kamarnya sangat khas, membuat aku semakin berdebar. Alyssa masih tenang dalam mimpinya dan mas Pendi pun akhirnya ikut masuk. Aku duduk berjongkok disamping kasur Alyssa, memandang wajahnya dengan jarak yang sangat dekat, kunikmati kecantikannya, dalam lelap mimpi indahnya. Mas Pendi ikut duduk disampingku, sambil senyum-senyum kearahku. Mataku menuju kearah lain, melihat titik demi titik ditubuhnya yang terbungkus piyama pink, mas Pendi hanya geleng-geleng disampingku. Tiba-tiba tubuh Alyssa bergerak, aku dan mas Pendi kaget setengah mati, kami berdua mundur, mengambil kuda-kuda untuk kabur secepat kilat. Alyssa membalik badannya, merubah posisi tidur menyampingnya, kini posisi tubuhnya terlantang menatang didepan kami.

Kutarik napas panjang lega, kembali aku mendekat, menikmati wajah dan tubuhnya lagi. Lalu aku kaget bercampur senang, dari balik piyama tipis berwarna pink Alyssa, ada sebuah tonjolan tepat diujung toketnya, PENTILNYA!!! Aku langsung menahan mulutku karena takut berteriak saking girangnya, kucolek pundak Mas Pendi, sambil menunjuk kearah toket Alyssa yang ternyata tidak memakai bra!!

Mas Pendi mengusap wajahnya, matanya melotot melihat apa yang aku lihat. Kulihat kearah lain, dan wow! pusar Alyssa terlihat jelas dibawah, kulit perutnya sangat mulus, dengan beberapa bulu-bulu tipis. Aku sudah tidak dapat lagi menahan ini semua, nafasku sesak, kepalaku panas. Dan akhirnya aku gelap mata.

Aku berjalan mundur kearah pintu yang tadi aku congkel, kututup rapat. Mas Pendi bingung dan cemas dengan ulahku, dia mengeleng-gelengkan kepalanya, tapi itu tidak berguna. Iblis sudah menguasai diriku, aku melangkah maju kearah Alyssa, aku duduk diatas kasur tepat disamping Alyssa.

-----------------------------------------------------------------------------------

Kuberanikan diriku, kuelus wajah mulus Alyssa Soebandono, artis muda yang sedang naik daun itu. Kuelus mesra rambut panjang hitamnya yang ternyata memang benar-benar bagus tidak hanya seperti iklannya ditelevisi. Mas Pendi ragu-ragu, tapi akhirnya dia berani untuk duduk diseberangku, disamping kanan Alyssa. Mas Pendi ikut mengelus wajah Alyssa, sementara aku mulai berani turun kearah lehernya, wajah Alyssa terlihat geli, tapi dia masih belum terbangun. Tanganku semakin turun menuju kearah dadanya, kuyakinkan Mas Pendi yang sedang asik mengelus rambut Alyssa dengan takut. Mas Pendi mengangguk pertanda dia siap untuk hal yang lebih gila lagi.

Kucubit pentil Alyssa yang menonjol dari balik piyamanya. Wajah Alyssa langsung meringis lalu dia terbangun dari tidur indahnya.

"Hah?"seluruh nyawa Alyssa belum terkumpul, dia bingung melihat ada dua orang pria dikamarnya

"aaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhheeeeemmmm......."saat dia mulai sadar dengan kehadiran kami, tangan besar Mas Pendi sudah siap menutup mulutnya.

Kutahan tangan dan paha Alyssa, dia coba memberontak, tapi apa daya tubuh kecil Alyssa melawan seorang supir dan seorang tukang kebun??? Kuremas kasar toket kanan Alyssa yang berukuran sedang namun sangat padat dan kental. Alyssa meringis menahan sakit bercampur geli ditoketnya.

"Hallo mba Alyssa...."sapaku dengan senyum licik

"Eeeemmm...eeemmmm...eeemmmm..."Alyssa coba bersuara dan menahan pijatan tanganku ditoketnya

"Apa?? Mau?? iya...iya..tenang...malam ini kami berdua bakal puasin mba Alyssa"ledekku

Cukup basa-basi, aku langsung menarik piyama Alyssa Soebandono, kancing bertebaran, "kreKkk!!" dan dua buah toket yang sangat ranum, sedang, namun padat berisi, dengan penting yang munggil berwarna pink, dan bintik-bintik kecil menghiasi pinggirnya.

"Wah wah...tete lw cantik juga ya mba"pujiku

"hahhahahaha..."diiringi tawa licik mas Pendi

Kudekatkan wajahku ketoket Alyssa, kukecup dan kujilati dengan lidahku sambil sesekali sambil sesekali kuisap, toketnya berasa manis, "memang beda rasanya kulit orang kaya ya, ahahahhahahaha"ujarku dalam hati.

"Eeeemmmm...eeemmmmm...eeeemmmmmm...."Alyssa coba berucap, expresi wajahnya saat ketakutan benar-benar cantik, uuugghh membuatku ingin terus menghabisinya

Tangan kanan mas Pendi mulai bergerak, dielusnya paha Alyssa, sesekali kearah memeknya, menekannya dengan jari. Alyssa semakin tidak tahan dengan pelayanan dari kami, air liurnya menetes dari balik dekapan tangan mas Pendi. Beberapa menit kami menikmati posisi awal ini, akhirnya aku mulai gerah. Kulepas kulumanku dari toket Alyssa yang berdetak dan mulai memerah, kuambil kawat yang tadi aku pakai untuk mencongkel pintu kamar, kugengam kuat dengan tanganku, dan kuarahkan tepat didepan mata Alyssa.

"Sekarang lw pilih mba, mau kehilangan mata lw, apa kehilangan perawan lw, kalau lw masih perawan"tawarku

"eeeemmm..eeehhhh..eeeehhh...eeemmm..eeehh..eehhh"Alysaa yang mulai merengek, tapi itu malah membuatku semakin bersemangat

"Berani teriak, berani lw mati, gitu ajah ok?"ancamku

Kuberikan kode kepada mas Pendi untuk melepas tangannya yang membungkan mulut Alyssa. Dengan perlahan mas Pendi melepas tangannya, Alyssa bernapas lega. Mulutnya mulai terbuka mencoba berteriak tapi aku dengan sigap mengarahkan besi tadi kearah lehernya.

"Eittss...."ancamku

"Ammmppuunn mass..aammmppuuunnn...aaaammmpppuuuunnn..."rengek Alyssa

"Iya gw ampunin asal lw nurut sama kita"ancamku lagi

".............."Alyssa tertunduk dan menangis

Kutarik celana piyama Alyssa, dia mencoba menahannya, tapi aku menariknya paksa. Assstttagggaaa...paha mulus Alyssa Soebandono dengan bulu-bulu tipisnya terlihat jelas didepan mataku, membuat kepalaku pusing, celana dalam berwarna putih dengan renda-renda bunga berwarna hitam terlihat menutupi memeknya yang ternyata basah. Mas Pendi asik meremas toketnya perlahan membantu Alyssa bangun, sekarang Mas Pendi ada dibelakang Alyssa dengan kedua tangannya meremas toket Alyssa, tangan Alyssa yang lemah mencoba melepas remasan tangan Mas Pendi. Sementara aku mengelus paha mulus Alyssa dan dengan perlahan menurunkan celana dalam imut Alyssa. Bulu-bulu halus dari perutnya yang terusa tersambung sampai pahanya membuatnya selangkangan artis muda ini sangat seksi.

Pelahan demi perlahan mulai terlihat lembah kenikmatan artis muda dan cantik kita ini. Bersih tanpa bulu, Alyssa sangat pintar merawat memeknya, dia menahan kedua pahanya, agar aku tidak bisa menyentuh memeknya, tapi itu malah membuat memeknya berdenyut-denyut seakan menyuruhku untuk segera menikmatinya.

"eeemm...eennnggmmm...eemmmm...." suara desahan Alyssa Soebandono saya aku mulai memainkan jariku dimemeknya

Mendengar suara itu aku semakin tidak tahan, aku segera melepas kaus, dan celana jeansku. Kubuka celana dalamku tepat didepan Alyssa, "plak!" suara kontol besarku menampar pipi Alyssa, membuat dia takut setengah mati.

"Udah hajar, aku udah gak tahan nih Man!"eluh Mas Pendi

Atas perintah itu, aku langsung turun, mengarahkan penisku kearah selangkangan Alyssa. Alyssa masih mencoba memberontak, ditahan dengan kuat kedua pahanya, dengan sedikit paksaan aku berhasil membukanya, memek Alyssa yang berwarna merah terlihat. Aku menahan kedua paha Alyssa, kumajukan tubuhku, kini penisku tepat berada didepan memeknya, siap menyantapnya.

"aaaaammmpuuunnnn...huuaaaa....aaammmpppuuunnn....pleaseeee....lepaasssiiinnn....huuuuaaaaa..."Alyssa merengek sejadi-jadinya saat melihat kontol besarku tepat didepan memeknya

"apah??gak denger gw??ulang!!!"bentakku

"aaaammmmmpppuuunnnn maassss...maaasssss...aaammmppuuunnn...lepasin Alyssa....pleeeaseeeeee...."rengeknya lagi

Kucengkram perut Alyysa dengan kedua tanganku, dengan yakin kuangkat perutnya, kumasukan ujung penisku kekulit memeknya. Mata Alyssa meloto, kutarik perutnya dan kudorong pinggulku maju.

"Jaaannggaann...masss...jjjaanggaannn..aaammmmm...aaanannnggggg.....aaaaahhhh...eeeeeemmmmmmm....."

suaranya langsung terputus saat kontolku kupaksa masuk kedalam memek Alyssa, full!! Alyssa berhenti berteriak, seluruh tubuhnya bergetar, sedangkan kontolnya berasa sangat nikmat dalam memeknya yang sangat sempit dan hangat!!Serasa dicengkram dan begitu keset, "mungkin karena Alyssa rajin minum ki***** (iklan), hahahhaha"pikirku

Dengan perlahan kutarik keluar kontolku dari memek Alyssa.

"eeennngggg....annnjjrrriiittttt...."suaraku bergetar menahan nikmat yang luar biasa dari memek artis ini

"eeeemmm..aaaahhhh...aaamppuunn..."suara Alyssa lemas dan bercak darah menempel pada kontolku pertanda keperawanan Alyssa telah hancur

"giliran lw mas"ujarku kepada Mas Pendi

Mas Pendi melepas tubuh lemas Alyssa, sekarang aku yang memegang tubuhnya, sambil aku aku kocok memeknya dengan kontolku, tangan Alyssa mencoba mendorong tubuhku, tapi itu malah memudahkanku untuk mengentotnya. Tiba-tiba Mas Pendi muncul dalam keadaan bugil, dia berjongkok diatas kepala Alyssa, diarahkannya kontol hitamnya kedepan mulut Alyssa. Alyssa jelas-jelas menolak dan menutup rapat mulutnya, namun mas Pendi tidak kehilangan akal, ditutup kedua hidup Alyssa, dan akhirnya Alyssa membuka mulutnya karena tidak bisa bernafas, saat itulah mas Pendi langsung memaksa masuk kontol hitamnya kedalam mulut Alyssa, kini tubuh Alyssa sudah dikuasai oleh kami berdua. Aku terus mengocokan kontolku kedalam memek Alyssa, sementara mas Pendi asik bermain dengan mulut Alyssa, tangan mas Pendi memilin-milin pentil Alyssa yang kecil namun terlihat sangat indah. Alyssa sudah hilang arah, dia tak berani lagi melawan, tangan terbujur lemah mengikuti irama gerak dari sodokkan kontolku.

Aku memberikan kode kepada mas Pendi, mas pendi segera mencabut penisnya dari dalam mulut Alyssa. "Huaaahhh, uhuk...uhuk...uhuk...!"Alyssa lega. Tapi belum sempat dia mengambil napas kedua lagi, kuangkat tubuhnya lalu kutarik dia keatas tubuhku dengan kontolku tetap menancap dimemeknya, Alyssa bingung, dan mas Pendi sudah pasang kuda-kuda.

Kini Alyssa ada diatasku, wajahnya tepat didepan wajahku, sangat cantik, bidadari, astaga aku langsung melahap bibir tipisnya. Memainkan lidahku didalan mulutnya, saat itu juga, saat konsentrasi Alyssa terfokus kepadaku, mas Pendi membuka pantat Alyssa yang padat, lalu dengan perlahan memasukan jarinya, Alyssa sangat kaget, dia mencoba melawan tapi aku langsung memeluknya erat. Sambil terus kumainkan lidahku dalam mulutnya.

"eeemmm...eeemmmmmm...."entah bicara apa Alyssa

"eeemmmmmmmmm...eeemmmmm....eeemmmmmmmm...."saat jari mas Pendi bergerak keluar masuk didubur Alyssa

Satu jari, kemudia dua jari dimasukan mas Pendi kedalam dubur Alyssa, Sambil dilebarkannya pantat Alyssa. Mas Pendi mengambil ancang-ancang, ditempelkan ujung kontolnya didubur Alyssa yang bergerak-gerak, dan

"Aaaaaaaaaaaaaaaaaggggggggggggggggggghhhhhhhhhh...eeennnngggggg...eemmmmmm...."sengaja kulepas mulut Alyssa agar bisa terdengar suara teriakannya saat mas Pendi menghajar bokongnya.

Aku dan mas Pendi langsung bergerak, menciptakan gerakan dan pola yang serasi, kembali kulahap bibir dan mulut Alyssa Soebandono. Memeknya dalam kekuasaanku sedangkan pantatnya dalam kekuasaan Mas Pendi. Beberapa menit kemudian, kulepas ciumanku dan kubiarkan Alysaa berteriak kenikmatan.

"Aaahhh...aaahhhh...aaaahhhhh....aaahhhh..."suara Alyssa mendesah (bayangin muka dia deh gan)

"eeemmmmmm...eemmmm...aaahhhh....aaaahhhhhhh...."

"eeemmm..eemmmm..aaahhh...aahhhh...aaahhhhhh...."

Napas Alyssa bertambah cepat, aku tahu ini pertanda dia akan organsme, mas Pendi pun merasakan itu. Kupercepat gerakannku begitu juga mas Pendi, Alyssa semakin menggila, tangannya yang tadi terjulur lemas, kini dia gunakan untuk menopang badannya. Membuat genjotan kami lebih terasa, rambut wanginya bergerak menyapu wajahku, membuat aku terbuai dalam mimpi indah ini, wajah cantiknya dengan mata yang berkaca-kaca, dan expresi menringisnya, oohhh....

"eeennggg...eeennnggg...."kurasakan sesuatu yang akan keluar dari penisku

"eeeeeemmmmm...eeemm..eemmm..ah.ah.aaahh..aahhh..."Alyssa pun merasakan hal yang sama

dan...

"aaaaaaaggggggggggggggghhhh...aaaannnjjjiiinngggg....enaaaakkk bangeeettttt....bangsssaaaaattttt!!!"kukeluarkan semua spermaku kedalam memek Alyssa

"eeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeemmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm............"Alyssa terpejam, tubuhnya bergetar, tangannya mendadak lemas, dan kurasakan hangat menjalar dibatang penisku

"eeeeeeeeeeeeeefffffffffff.....gggiiiillllaaaaa.....aaaaalllyyyssssaaaaa.....ooohhhhhh...."dilanjutkan oleh mas Pendi yang memuncratkan spermanya dipanta Alyssa

Kami bertiga terbujur lemas, tapi Alyssa yang sama sekali tidak berdaya lagi. Beberapa menit kemuda kami bertukar posisi, Alyssa Soebandono artis idola Indonesia pasrah dalam hasrat sexsual kami yang gila, kami terus menikmati tubuh Alyssa sepuasnya, hingga tak terasa matahari terbit. Aku segera mengambil HP Alyssa, memotretnya dalam keadaan bugil penuh sperman dengan wajah kepuasan yang luar biasa. Kupakai bajuku begitu juga dengan mas Pendi, kubawa HP tadi turun kebawah.

Kami sampai ditempat dimana semalam kami minum-minum dan nonton bola dan tololnya ternyata mas Darmo tertidur karena terlalu mabuk, aku da Mas Pendi tersenyum sambil tidak menyangka dengan hal yang terjadi semalam. Kubereskan sisa-sisa minuman dan makanan, kami hilangkan semua barang bukti, lalu kami bangunkan mas Darmo. Pura-pura tidak terjadi apa-apa.

Sedangkan Alyssa Soebandono, menahan sakit pada dua lubang bagian bawah tubuhnya, dengan sperma yang menetes dari kedua lubang itu. Menangis hanya itu yang dia bisa lakukan, malang nasib artis muda ini. Keperawanannya direnggut oleh dua orang pembantunya sendiri.

-----------------------------------------------------------------------------------

Seminggu berlalu, Alyssa Soebandono dikabarkan sakit. Tubuhnya tergeletak lemas dikamar, orangtuanya bingung dengan apa yang terjadi, wanita muda itu coba menutupi kepedihannya.

"Kamu gak apa-apa nak?"tanya ibunda Alyssa kepada anaknya

"Aku cuma butuh istirahat bu"jawab Alyssa dengan senyum khas lesung pipitnya

Sang Ibunda pun pergi keluar kamar. Alyssa mengeluarkan tangannya yang daritadi dia sembunyikan dalam selimut tebalnya. Sepucuk amplop dalam genggamannya. Sebuah tulisan ancaman dari Firman beserta copy dari foto-foto bugilnya, yang jumlahnya hampir 30 lembar.

"LAPORKAN TENTANG KEJADIAN ITU!!"

"MAKA SEMUA FOTO INI AKAN MENYEBAR!!"

"SEPERTI TUBUHMU YANG AKAN KAMI SEBAR DALAM BEBERAPA POTONGAN"

Alyssa menangis sejadi-jadinya, menyalahkan nasib atas apa yang menimpa dirinya. Dibalik senyum indahnya, dibalik pesona wajah cantiknya, ada sebuah duka dan noda yang tidak akan pernah bisa hilang seumur hidupnya "Aku Telah Diperkosa!"

-----------------------------------------------------------------------------------

-=TAMAT=-



Kasus Pemerkosaan Alyssa Soebandono

based on 99998 ratings.

5 user reviews.

.